Arus Peradaban dan Wajah Rembulan
Arus damai. Tabir cetusan karya Tuhan dalam semesta yang diciptakan-Nya. Karya ini tercipta akibat tekanan pengaruh obat. Mohon sedikit rileks membacanya. Karena akan berisi konten yang tidak jelas. Suara bisikan menjalar mengikis bunga. Tumbuh layu kemudian merasakan mati. Taman kembali hijau dengan berbagai pernak pernik permata surgawi. Nampaknya kepakan sayap malaikat menjatuhkan mutiara yang menghidupi dunia. Seandainya titik mengembang dalam rasa membara menjelma tubuh layu menumbangkan. Oh tidak, aku melupakan titik.
Kesunyian menyerebak. Orang-orang berjalan lambat dan nampaknya tidak sadar atas kehadiranku. Aku berada di dimensi diatas mereka. Seorang menulis catatan disampingku. Atas sekedar menyalin dari tulisan teman. Sementara satu yang lain bercakap. Ia berada di kananku. Mungkin membicarakan tentang berapa ukuran BH mereka. Kelihatannya mereka perempuan. Kulihat dari jilbab dan benjolan di dadanya. Itu bukan tumor.
Sementara petikan gitar terdengar. Kuingat ketika aku memetikan gitar untuk menggoda kekasihku. Kekasihku sekarang dimana? Apakah dia akan kecut seperti dulu? Mungkin dia belum cukur. Melipat malam dalam cerita yang tercipta dari jejak langkah hari yang berlalu. Aku termangu terperangkap rindu. Kepada siapa rindu itu? Apa dengan pinta aku mendapatkannya. Aku ingin keluar. Kemudian menyudahi urusanku. Ku lihat pandang semakin berkunang-kunang. Perempuan itu bergincu merah, berkulit putih dengan pipinya yang merona. Nampak menikam kerinduan pada kekasihnya. Di pagi yang tenang di taman surga jiwa. Mencari ungkapan yang tepat dalam menghadirkan kata. Cinta yang selama ini entah dimana. Mungkin para koruptor disidang dalam keadaan mabuk. Tubuhku melemah. Segalanya benar-benar lambat. Aku merasa mengetik semakin cepat.
Mungkin aku bisa membuat buku dalam waktu semalam jika mengkonsumsi zat ini. Zat Tuhan yang diberikan pada tanaman yang kemudian membuatku bahagia. Walau keresahan begitu melanda, aku semakin bingung. Tidak ada kata yang tepat untuk menggambarkan rasa ketika bercinta. Dakwah serupa aksara menikam prahara. Sementara di atas mimbar mereka berorasi tentang perang akhir zaman. Bukankah semua ini sia-sia jika hidup hanya diartikan menunggu mati. Termangu dalam kesunyian dan keramaian yang membosankan. Maka dari itu, manusia perlu sekiranya untuk membiasakan bosan.
Gadis kecil mengais cita di sisa malam. Terseok langkah mereka tat kala tertikam rapuh. Tak tau kemana akan berlabuh. Di tangannya ada ada harapan warna-warni yang kemudian dibagikan kepada makhluk lain. Cemas. Mencari aral dalam arah yang tak tentu. Mencari kesadaran yang semakin melayang. Waktu berjalan cepat tapi gerak serasa lamban. Entah siapa ini kebutulan yang ironi. Kita mungkin mengeringnya mata air. Atau mungkin hujan yang jatuh di matamu. Sementara kau datang untuk berteduh.
Mata air air mata dalam pusaran peradaban yang tertorehkan dalam cerita sejarah. Tiada di perang terdahulu. Kisah menjelma hikayat. Menjadi luhur karena budi. Menjadi budi karena bijak. Ah, aku mulai haus. Dan seketika kesadaran sedikit demi sedikit hadi merasuk ke raga. Entah sejauh apa yang aku tulis ketika aku mencari raga. Aku masih mencari rasa. Semoga semua tau kemana akan berlabuh meski jiwaku enggan bertengger di matamu kembali.
Andai semua manusia tau tentang kemanusiaan, mungkin tiada orang kelaparan atau setidaknya tiada yang haus akan cinta. Sewajarnya cinta yang selama ini diperkosa demi sebuah kepuasan dari hasrat perlu untuk dimurnikan dan dipersembahkan pada Sang Maha Cinta. Aku tak berani berkat itu Tuhan, karena aku belum selesai mengenal diriku sendiri.
Berjalan, rasa berpikir semakin berat. Kata berhati berjumpa jejakmu. Curiga sia-sia dipunggung wajan yang menyanyikan kidung kesunyian. Bahasa kita menyembunyikan kebenaram, bohong. Catat kemudian buang kembali. Pejam hasrat dengar deru di dekat jarak bergejolak mengapung haturkan kearifan ibu. Kita mengapa menanggung lara? Mengunyah yang hanya berjejal pedih. Busuk bangkai kematian dalam kesendirian sumur yang dalam. Mungkinkah sedalam palung atau sedangkal pikiran mereka yang memperkosa atas nama kemanusiaan.
Andai ibu mempunyai bapak dan mereka memiliki anak tidak akan menemukan kerepotan seperti ini. Siapakah kita ini? Yang dalam riang ringkih dan terhimpit rahasia yang tak rahasia. Mengenyam duri-duri yang menjadi makanan sehari-hari. Mungkinkah setengguk alkohol akan menghalalkan diriku untuk memasuki tubuhnya. Aku tak mampu untuk membius rasa yang semakin meraung ditikam sunyi. Ah, merepotkan. Tuhan menciptakan manusia untuk melakukan apa yang tidak ia inginkan. Tapi menjadi gemerlap yang gelap di sisa hidup pendar yang teduh. Mengapa kita bertahan dalam percakap tentang mimpi kakek nenek yang mereka yang luar biasa saja tak mampu untuk menggapai. Ku kembalikan semua yang aku minta. Itu tidak perlu. Aku hanya perlu media untuk menulis karena ini kehidupan yang asyik. Tidak perlu tenar yang penting lancar. Sebelum jarak semakin ganas menikam. Kita tidak tahu ujung jalan ini. Terus berjalan mencari cahaya. Selalu ada cahaya diatas cahaya ketika hidup. Dan tugas kita mencari kebenaran, bukan membenarkan diri sendiri.
Jangan percaya dengan manusia. Mereka binatang jalang. Hanya nabi dan rasul saja yang suci. Sisanya cabul dan beringas. Kasih, maafkan aku menelanjangi langkahmu dengan mrngotori dirimu dengan luka. Sebagai bekal menghadapi keabadian, aku merangkul secuil pendar. Bara yang menyala dan sunyi menyendiri. Kita telah jauh berjalan melalui luka tanpa air mata. Menarilah bersamaku, tergelincir berlumur tanah hapuskan kegelisahan. Ah, aku bermimpi tentang bulan dan matahari yang bercinta ditengah perang akhir zaman. Kemudian anak-anak hujan menari membasahi jiwa. Menyiram rasa. Suburkan cinta sebagai bekal menghadap.
Kesadaranku mulai pulih, kawan. Aku mulai bisa berpikir jernih. Sedari tadi dirundung kelabu dan kunang - kunang. Ternyata dirimu lebih tabah. Relakah kau disetubuhu rindu yang digantikan bayang. Gesekan biola, petikan gitar masih terdengar dari sebuah jelaga di samudra peristiwa. Sementara bising menjadi syarat dari sebuah peradaban. Orang-orang menyanyikan pilu yang merangkas dan tubuh-tubuh yang mencumbui kaki bulan. Sebagian berlumur darah yang setiap malam menyeduh nama kekasih dan selingkuhannya.
Palpitasi dimulai tat kala sunyi mulai memenuhi ruang. Maka saat itulah Tuhan memanggilku.
Komentar
Posting Komentar