Hujan Masih Air, Belum Darah!
Seperti hari yang panjang, dilalui dengan pahitnya kehidupan. Tawa canda yang nyatanya palsu adanya atau sedih susah yang nyatanya tak seberapa. Sebuah kopi untuk melarung kemalasan atau rasa enggan untuk duduk berdua. Tidak menutup kemungkinan akan ada kawan yang datang dan ikut duduk bersama. Janganlah risau atau terganggu karena realita kehidupan cukup mengganggu fantasi kita tentang kehidupan yang lebih baik. Untuk tuan puan kisanak yang duduk jauh di seberang. Untuk setiap mulut yang tak memiliki keinginan untuk berucap tat kala seorang insan duduk menangis di sebelah jembatan yang memisahkan kota kita. Sedangkan para tukang becak tidur terlelap diantara kota kecil yang semakin gemerlap. Sebuah tatapan kosong datang di suatu malam bulan tujuh belas. Mencari kursi dan berbincang bersama teman. Perbincangan selepas hujan segera dimulai. Alasan keterlambatan menjadi prolog dari sebuah diskusi berkepanjangan. "Hujan masih air, belum darah", sahut seorang ketika ...