Postingan

Menampilkan postingan dengan label Puisi

Sajak Kritis dalam Krisis | Aksi Kamisan Kediri ke 56

Gambar
Dan kini Setelah beberapa kali rezim berganti Riuh redam semarak pesta yang katanya demokrasi Berulang kali terdengar omong kosong dan janji-janji Berakhir menjadi bualan dalam laci pemimpin negeri Setengah abad lebih umur Indonesia Menuju seabad arah pembangunan kian tak tertata Melenceng jauh dari cita-cita pendahulu bangsa Alih-alih menjadi beban hidup rakyatnya Alur demokrasi kian semrawut Sementara rakyat dipaksa menjadi domba penurut Di setiap sudut gerakan dibuat takut Oleh para anjing pemerintahan yang bersujud pada uang dan isi kancut Disana Supriyadi menunjuk kita Isyaratkan khianat janji tak boleh dibiarkan begitu saja Bahwa wujud bela tanah air tidak hanya angkat senjata lawan penjajah Bukan pula sekedar teriakan jargona harga mati Indonesia Melainkan memulai pemberontakan pada sistem oligarki yang kian hari kian meraja Nampak merah gereja kian memudar Diwarna berkali-kali hanya buang anggaran Karena merah pada nyali telah mati Dirajam ketakutan pada hukum yang ...

Kepada Surabaya

Gambar
Kepada setiap embun subuh yang menyelimuti tukang becak yang sedang terlelap di sepanjang jalanan di Kertajaya. Kepada bau ambisi yang membangun Surabaya yang sedari pagi petang sudah ramai lalu lalang. Kepada setiap lagu Silampukau yang bercerita tentang gemerlap kehidupan kota besar tempat bergantung jutaan jiwa mencari makan dan kepuasan jiwa. Kepada setiap pelacur online di setiap hotel berkelas hingga waria yang bisa ditemui di twitter dan michat. Kepada bau selokan yang menjadi tempat bertempurnya Sura dan Baya di tahun 2021. Kepada Sura dan Baya yang menjadikannya Surabaya yang bermakna keberanian menghadapi bahaya, padahal yang berbahaya ada sira yang berarti dirimu. Kepada muda-mudi dunia malam sepulang mabuk dari klub di Surabaya Barat yang diantar pulang oleh kawannya yang sama-sama dimabukan ketakutan menghadapi kenyataan. Kepada air yang setiap tetesnya berbayar sementara Tuhan masih memberinya secara gratis di setiap tetes air matamu. Kepada air mata seorang p...

Hujan Awal Tahun

Gambar
Di luar badai mengamuk Listrik padam sore ini Jalanan sepi sedari pagi Sisa pesta sunyi malam tadi Air hujan dari kayangan Basahi luka yang masih menganga Apakah lukamu sudah sembuh ,sayangku? Kita balut luka dengan sedih tak berhujung Kematian bukanlah tragedi Kecuali kita ambil hak Tuhan untuk menentukannya Begitulah kata-kata dari puisi Walau naif tapi ada benarnya Mengeja realita siang dan malam Memburu materi sehari-hari Dihantui masa lalu yang kelam Juga masa depan yang tak pasti Angin dingin kibarkan rambutmu Susuri pelipis mulusmu Tetapi matamu tak mampu menipu Air mata tak pernah kering di sungai pipimu Matahari terbit rembulan tenggelam Awal tahun tetap seperti biasa Burung-burung bernyanyi hingga malam Buat sarang di angan-angan Air mata terus bercucuran Seiring hujan yang kian deras Pertanda hati yang lelah akan dunia Kehidupan yang dipenuhi derita Awal tahun kelabu  Akankah bermuara pada bahagia Tenang terasa jauh Jika gelisah masih menahun Di atas cakrawal...

Ijinkan Aku Mati Malam Ini

Gambar
Ijinkan aku mati malam ini.  Biarkan waktu menguburku dalam liang kehidupan.  Biarkan kata-kataku menyumpal mulutku.  Begitu juga penglihatan menutup mataku dan suara menyumpal telingaku. Biarlah pikiranku menjadi algojo atas kematianku sebelum pikiran itu membakar sel-sel pada kulitku. Ijinkan segala rasa bersalah ini luruh bersama aliran darahku. Begitu sisa pelukan kekasih yang dulu menyayangiku. Aku tidak pantas mati dalam kedamaian Aku pun juga tidak pantas mati dalam balutan kasih sayang Ijinkanlah aku mati saat ini Setidaknya hingga beberapa bulan kedepan Aku tak ingin melihat dunia semakin tua Juga umurku yang semakin berkurang dalam kesia-siaan Maaf jika diluar sana masih ada seseorang yang tulus Aku tak sanggup melihat masa depan ketika pesta esok adalah awal dari kematian orang-orang yang aku sayangi Maka biarkanlah aku menebus kematian mereka Dalam malam yang gelap Juga diriku yang hina

Suluk Kekembangan

Gambar
"Sångsåyå dalu araras abyor kang lintang kumêdhap tistis sonya têngah wêngi lumrang gandané puspita karênghyan ing pudyanirå sang dwijåwårå mbrêngêngêng lir swarané madubråntå manungsung sarining kêmbang." -Suluk Pathet Sångå Tetembangan suluk menyongsong fajar Bunga-bunga dan embun pagi Indah pesona kala dipandang Harum semerbak aroma bunga Tak heran kumbang terpikat Kepak sayap cepat mengepak Hinggap bergoyang tebar serbuk sari Madu-madu bagai racun asmara muda-mudi Semakin dipandang, semakin haus pula cintanya Kerinduan di sisa musim dingin Tat kala bunga-bunga bersembunyi Kumbang-kumbang berdiam di liangnya Sama-sama berpuasa Menahan segala nafsu dunia Kala musim semi tiba Segala kerinduan terobat Namun, apakah kau dapati madu selezat kala itu? Tetembangan kembali bergema Gwan sêmbah niréng hulun , kapurba risang murbèngrat , yéka kang asung mring wadu , mawèh boga sawêgung , masih ring dêlahan , gwan kanang amujwèngwang , ring jêng nataningrat , dutèngrat hut...

Sepi Datang Tanpa Permisi

Gambar
Sepi datang tanpa permisi Bising terakuisisi Hening beraksi Jiwa terisi Ringkih biduk Samudera amuk Terima benguk Rasa beraduk Purnama berganti Tanpa berarti Dalam hati Menyelam arti Takut mati Mimpi dan harap Rindu mengendap Tak dianggap Sisakan bengap Lukisan kelam Era nan kejam Di bawah tilam Rupa menganyam Bumi berbisik Di tengah berisik Gelisah mengusik Menuntut balik Kidung bertalun Tahun ke tahun Kisah tertenun Pada halimun Mulut bergumam Di ujung malam Wajah asam Di bawah temaram Rinai hujan Basahi perasaan Jernih amatan Temukan pesan Bunga mekar Di tengah belukar Meski sukar Tetap berujar Rupa beraneka Cobaan kehidupan Memendam duka Pancarkan suka Memoar biru Bualan semu Para pecandu Menanti temu Temukan arti Rasa sejati Dharmabakti Menjadi bukti Inilah pungkas Patri batas Tiada aras Hanya asas

Jikalau

Gambar
jikalau hancur, mari kembali membangun: reruntuhan, pecahan; perang jikalau lelah, mari kembali mengingat: harapan, impian; asa jikalau hilang, mari kembali mencari: nilai, rasa; kita

Pesan Daun pada Dunia Penuh Prahara

Gambar
Sinar lampu perlahan menjadi temaram Pijar redup memberi tenang Dalam melalui kesunyian Menuju lingkaran dan sekat Menuju sua penuh kata Senyum sapa para sahabat, Yang bercerita tentang pedih dan juang Kopi kembali menjadi teman Tat kala gundah mendorong sunyi Menuju ruang riuh Penuh kata minim makna Setidaknya masih ada hangat Nikmat senggang di kenyataan yang kalut Sementara kucing kita tertidur Dalam pelukan nyaman persaudaraan Kesadaran bahwa manusia dipenuhi angkara Hingga lupa cara untuk bertegur sapa Menjadi kelam dalam gelap Menikam-nikam dengan caci dan kata Menjadi prahara kalut peradaban yang kian bingung Semoga yang tersemogakan dapat terwujud Seperti bagaimana doa terkabul Membawa bahagia bagi dunia yang dipenuhi rintihan

Siang yang Gelap

Gambar
Aku berdiri di bawah mega mendung Menyisiri angin yang sejuk Membawa teror bagi mereka yang enggan Untuk merasakan sejuk air hujan Dingin.. Tapi menyadarkan Bahkan saat terik Masih berikan kehangatan Tidak menyengat Dan hujan tak membuat getir ragaku Karena yang berjalan disini bukan hanya raga Tapi jiwa yang menganga Syukur pujian tiada henti Karena dalam kegelapan Tiada yang bisa dikenali Hanya secerca lentera Tidak menyilaukan Hanya sekedar berpendar Sendiri di dalam gelap Hanya ada bisik yang bising Meraung terus menguji kesadaran Hingga akhirnya akan kutemui cahaya Yang menerangi di sisa umur jiwa Melayang lah ia pada suatu wadah Di pelukan Tuhan

Mutiara yang hilang

Hingga kumandang itu Aku masih terjaga Mengeja kantuk yang tidak juga aku mengerti Apakah ini pertanda Bahwa aku harus berhenti Untuk membenci pagi Bahwa dalam pagi Ada kesejukan yang kucari selama ini Tiada guna menghitung purnama Apalagi menghitung napas yang keluar masuk Nikmat Tuhan yang tak layak aku hitung Di dasar ketakutan akan mati Yang senantiasa menghiasi pejam mataku Sementara aku mengenal diriku Aku merintih sedu dalam kesadaran Menerima apa yang pantas Dan menolak apa yang keliru Sayangnya Aku masih samar akan benar dan buruk Aku masih jauh dari kata murni Masih jauh dari jemari Tuhan Yang setiap malam membelai dalam tidur nyenyakku Betapa beruntungnya aku Diberi keresahan yang menyadarkanku Bahwa hidup bukan sekedar mengeja rindu Bukan perkara meniti jalan penderitaan Tapi merangkai kesadaran Bahwa hidup ialah mencari kebenaran Sebelum dijamu oleh pertanyaan Pada ajal pembalasan yang kelam

Hari Berganti

Gambar
Gerimis masih mengguyur malam Dengan dingin yang sejuk Jatuh air lalu mengalir Entah kemana akan bermuara Sementara orang-orang tidur Berselimut hangat di ranjang-ranjang mereka Memeluk guling dan mulai bermimpi Entah kemana jiwa mereka melayang Ada kemilau dilangit Apakah itu engkau? Yang kini gemilang diatas sana Dan aku Hanyalah lentera kecil di ujung gelap Merangkai kata menjadi rima Mengeja rasa yang kian kalut Tertusuk-tusuk hujan di malam ini Pertanyaan mereka terus menggerus telingaku Disebagian detik aku merasa ada yang berbisik Berbicara tentang kemurnian Kata yang keluar dari diri Ialah kata hati Perantaraku dengan Tuhan Yang anugrahkan sebuah resah Menjadikanku sadar Bahwa manusia hanyalah makhluk biasa Tiada beda mereka dengan makhluk lain Kecuali cara mereka merusak yang lainnya Tak terdengar lagi nyanyian alam Tertutup ramai desing kata tanpa makna Tak terdengar tutur luhur kearifan Tertutup pekat nafsu angkara Sementara parade masih berjalan Deruh murka manu...

Mati Suri di Taman

Sekiranya waktu berjalan lebih cepat Ia berlari mendahului akal Dan terus berlari mengejar rindu Tak kenal lelah dalam menggilas Kita yang dulu pernah mesra Menebar janji di lembah kasih Bercinta di atas langit merah muda Kini semua lenyap Tat kala aku menghilang Aku mencariku dalam sepi Yang ku tahu Aku bukanlah dia yang pantas Bersanding dengan makhluk sepertimu Bercahaya dalam gelap malam Aku masih ingat perbincangan terakhir kita Tentang bertemunya mata air Tentang sungai yang mengalir Sementara aku asyik melihatmu kehabisan kata Dan melepasku dengan pelukan hangat Ketika itu Aku telah terbang ke nirwana

Malam Kelam

Gambar
Mentari terbenam Rembulan berlayar Gemerlap bintang Remang cahaya lentera Gelap tat kala tersesat Samar terlihat bayang Jelmaan bidadari kayangan Merasuk rasa dalam dada Ingin hati untuk bersua Namun apalah daya Hamba hanyalah binatang Terhina di ujung belantara Menjelma makhluk buruk rupa Terbuang dari gemerlap dunia Menghamba pada rasa Tak lebih timbulkan kecewa Kala tiada merengkuh raganya Hanya sekedar angan Harap memeluk tubuhnya Tak lebih sisakan lara Serupa rindu tak jumpa Menjadi sesal mengakar Hujan air mata Terperangah diri tersadar Hamba bukan siapa-siapa

Manusia Lupa

Kemilau cahaya puncak Bangga berdiri disana Bersorak sorai kesenangan Lupa diri lupa segala Yang ada hanya kesombongan Merasa paling wah Memiliki kuasa Berkehendak atas segala Hingga ia tinggal nama Tergulung ombak Terlahap api Tertimbun tanah Saat itu ia baru sadar Ia tak lebih dari segumpal darah Yang tak berdaya Ia lupa ibu bumi Ia lupa Yang Maha Kuasa Termakan hawa nafsunya Termakan ketamakannya

Anak-anak kita

Malam ini Kulihat anak-anak kita berlari Menuju hutan dan belukar di luar sana Menggedor batas-batas Memaksa untuk keluar Kita sebagai orang tua hanya bisa pasrah Karena kita menyusuri fase dan mengerti akan waktunya Tapi apakah anak-anak itu tahu? Siapa anak-anak itu? Ia adalah anak-anak yang lahir dari kesalahan kita Ia bernama rindu Ia menuntut temu Dan kita masih tunduk oleh jarak

Perindu

Secawan rindu yang terbalut duka Menanti temu pada jarak tak berujung Perihal aku juga kamu Yang tak lagi senada beriringan Angin meniti sela tubuhku Hening bekukan rasa yang berkecamuk Sementara bara akan terus terbakar Dalam diri yang terebah tak berdaya Berpangku dagu memulai renung Kapan rindu ini akan berujung temu? Entah

11 Jam Tidak Bertemu

Badai telah berlalu Puing-puing memenuhi jalan Banjir mulai surut Sisakan malam yang basah Ketika hujan aku berada di jendela Duduk menggigil tersapu angin Terbangkan sukma yang dambakan hadirnya usai Perpisahan bahagia Kesunyian berbisik Ucapkan mantra-mantra Sebagiannya juga petuah Menyelami lara Menjernihkan rasa Hingga menemukan diri sejati Sebentar lagi pagi datang Kokok ayam bangunkan cakrawala Menghadikan hangat Mengeringkan raga yang jenuh dengan basah Jika hidup adalah perihal lara Maka aku rela Asal bersamamu Obat dari segala lara Aku mendamba temu, manisku

Larung

Melarung sunyi di gelap malam Kembali memungut kata-kata Mencium aroma pohon-pohon basah Terkena embun kabut di kala malam Kata-kata itu berubah menjadi bisik Bisik perlahan berubah menjadi sunyi Tempat kejernihan bermuara Letakku memikirkan pertanyaan kehidupan Sementara suara jangkrik ikut mengerik Di samping siara mesin otak yang kian menderu Berubah, aku mendengar suara dengung Ia menusuk-nusuk telingaku Meminta untuk dimengerti Bukan hanya sekedar didengar Itu adalah kejujuran hati nurani Tempat dirimu kelak akan mendengarkan suara itu Keluh kesahmu akan dilarung bersama sunyi Pandangan kabur indah kembali

Pulang

Haruskah aku pulang, kekasih? Sementara belaimu masih membekas Aromamu masih menancap Lirih suaramu masih terngiang Mana bisa aku pulang jika begini? Sementara aku bingung membaca peta Ke arah mana harus aku pulang Apakah istana itu rumahku? Yang berhias kemewahan dunia Namun tak ada dirimu disana Apakah sekeras ini? Ketika menelusuri kata Tak ada lagi yang gambarkan rasa Semua kata mereduksi rasa Dan aku semakin keras Kau tau, Jika bersamamu adalah sebuah kesalahan Maka bersamamu adalah kesalahan terindah dalam hidupku Dan aku bahagia mengakui kesalahan itu Maka, Izinkanlah aku menetap lebih lama disini, kekasih Sebelum aku memaknai arti rumah sesungguhnya

MAHLIGAI KASIH

Dan kita terlarut bersama desiran bayu sementara rindu terhempas gelombang yang jeram di samudera biru.. Biarkan langit teduhi segala hampa dan semesta mengaltari segala langkah rasa Di garis cakrawalamu ku mengitari waktu di mana khatulistiwa rindu mengapit rasa di bumi hatiku Ku menjadi hujan bahkan ku menjadi terik seketika senandung senja merenjana pilu di sebait akhir puisi bisu Di belantara mata cinta api membaur kilau debu menjadi intan permata Di mahligai mu ku menyaksi keemasan yang terlahir kasih dari aksara langit hati Di tubuh mu ku menjadi telaga yang menggumpal di istana pasir dan kembali ku menjadi gurun dalam hembusan panas angin rindumu.. Sementara waktu biarkan tertidur pulas dalam lena yang panjang..