Hujan Awal Tahun
Di luar badai mengamuk
Listrik padam sore ini
Jalanan sepi sedari pagi
Sisa pesta sunyi malam tadi
Air hujan dari kayangan
Basahi luka yang masih menganga
Apakah lukamu sudah sembuh ,sayangku?
Kita balut luka dengan sedih tak berhujung
Kematian bukanlah tragedi
Kecuali kita ambil hak Tuhan untuk menentukannya
Begitulah kata-kata dari puisi
Walau naif tapi ada benarnya
Mengeja realita siang dan malam
Memburu materi sehari-hari
Dihantui masa lalu yang kelam
Juga masa depan yang tak pasti
Angin dingin kibarkan rambutmu
Susuri pelipis mulusmu
Tetapi matamu tak mampu menipu
Air mata tak pernah kering di sungai pipimu
Matahari terbit rembulan tenggelam
Awal tahun tetap seperti biasa
Burung-burung bernyanyi hingga malam
Buat sarang di angan-angan
Air mata terus bercucuran
Seiring hujan yang kian deras
Pertanda hati yang lelah akan dunia
Kehidupan yang dipenuhi derita
Awal tahun kelabu
Akankah bermuara pada bahagia
Tenang terasa jauh
Jika gelisah masih menahun
Di atas cakrawala
Dewa meneguk sebotol arak
Melihat manusia kian beringas
Lupa akan ajaran luhur dan suci
Langit lukiskan sabdanya
Alam serupa kanvas terbentang
Manusia membawa kuas dan pena
Tuhan mengkritik dengan bencana
Dua ribu dua puluh satu
Orang-orang menaruh harap dan cemas
Pandemi masih penuh tanya
Penguasa gagap ambil tindakan
Dua ribu dua puluh
Sudah menjadi masa lalu
Tahun-tahun kedepan
Sisakan misteri dan pertanyaan
Peradaban manusia
Semakin lama semakin rapuh
Berhala diciptakan media
Serupa Tuhan dalam genggaman
Jutaan orang negeriku
Terkapar di kolong zaman
Menyaksikan kematian demi kematian
Ribuan orang melayang tiap harinya
Kemewahan terakhir muda-mudi
Diancam pelik standar orang tua
Tentang harta dan tahta
Dibudak oleh lawan kelamin
Guntur beradu dengan angin dan hujan
Gemercik deras badai pembuka tahun ini
Akan jadi apa esok hari?
Jika hanya tau meminta tanpa bertindak
Kupungkas kata sampai disini
Esok kita akan berjumpa lagi
Dengan berita yang baru
Juga dengan derita yang baru
Salam
Komentar
Posting Komentar