Kepada Surabaya

Kepada setiap embun subuh yang menyelimuti tukang becak yang sedang terlelap di sepanjang jalanan di Kertajaya. Kepada bau ambisi yang membangun Surabaya yang sedari pagi petang sudah ramai lalu lalang.

Kepada setiap lagu Silampukau yang bercerita tentang gemerlap kehidupan kota besar tempat bergantung jutaan jiwa mencari makan dan kepuasan jiwa. Kepada setiap pelacur online di setiap hotel berkelas hingga waria yang bisa ditemui di twitter dan michat.

Kepada bau selokan yang menjadi tempat bertempurnya Sura dan Baya di tahun 2021. Kepada Sura dan Baya yang menjadikannya Surabaya yang bermakna keberanian menghadapi bahaya, padahal yang berbahaya ada sira yang berarti dirimu.

Kepada muda-mudi dunia malam sepulang mabuk dari klub di Surabaya Barat yang diantar pulang oleh kawannya yang sama-sama dimabukan ketakutan menghadapi kenyataan. Kepada air yang setiap tetesnya berbayar sementara Tuhan masih memberinya secara gratis di setiap tetes air matamu.

Kepada air mata seorang perantau di kota metropolutan yang merindukan peluk hangat dari seseorang yang kini sedang tidur di pangkuan semesta atau merindukan belaian kekasih yang sama sekali belum pernah ia temui.

Kepada kemilau apartemen Ciputra yang menjadi hiburan mata ketika melihat mereka yang terawat keluar masuk menggunakan kendaraan mahal dan jangan ditanya dari mana uangnya.

Kepada siapa lagi kalau bukan kepadamu yang saat ini sedang bermimpi menjadi miliuner dengan kehidupan glamour berkilau sedangkan dengan uang yang sama seharusnya bisa membantu mengisi perut jutaan yang lapar di sepanjang jalan menuju maut.

Kepadamu aku bertanya, apakah malam minggu nanti kamu ada waktu longgar? Jika ada, ingin kuajak tidur di pulau mimpi dimana tiada rasa takut hingga kecewa karena harapan hanya sekedar dapat tidur dengan pulas untuk kerja di esok hari.

Kelasa siapa lagi? Kepada kota dengan geliat ekonomi 4.0 yang katanya duni dalam genggamanmu namun bagaimana jika untuk mengakses dunia juga harus mengorbankan dunia yang lain yang bernama kenyataan?

Kepada seorang gadis belia yang bingung harus bagaimana ketika besar nanti. Kepada laki-laki dan tembakau yang memenuhi lorong-lorong sempit daerah perkampungan di seberang kali berkarat di belantara megapolutan. Kepada seseorang yang sedang membersihkan piring-piring berisi muntahan rupiah yang tidak cocok untuk perutnya sehingga membuatnya nafsu dan menyetubuhinya.

Kepada penjual obat kuat yang laris manis dipasaran karena hasrat memuaskan pasangan membuatnya khawatir tak bisa lama-lama menggenjot pasangannya padahal semua perihal jeda dan waktu untuk kemudian merasa telah menggagahi dirinya.

 Kepada setiap tangan kanan atau kiri yang sikepalkan di depan kantor-kantor pabrik hingga pemerintahan yang menuntut hak yang tak kunjung dipenuhi, sementara banyak kewajiban yang terbengkalai seperti memilih abai dengan kondisi saat ini demi kondisi jiwa dan mental yang lebih baik.

Kepada dokter dan ahli gizi yang menyarankan hidup yang sehat dan makan bergizi untuk tukang becak yang untuk makan nanti saja masih belum tentu. Kepada polisi di sepanjang jalan ahmad yani yang berharap uang damai kepada setiap pelanggar yang aedangy terburu-buru. 

Kepada Surabaya yang katanya besar dan akses mudah untuk apapun keinginan dan kebutuhan padahal untuk memenuhinya butuh upaya yang tak gampang dan sering kali tak mulus juga. Kepada kebimbangan pada setiap kantong kosong kering tua keriput di tanggal kritis. Kepada siapapun untuk kesadaran menjadi manusia yang manusia walau pada hakikatnya semakin hari semakin susah seperti yang dilantunkan Iksan Skuter sembari menyedot Djarum 76 jatah sponsor. Kepadamu aku bertanya..

2021

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Parade Kematian 2021

Duel Pecel Tumpang vs Pecel Lele! Fafifest Gemparkan Permusikan Kediri

Merchant PERTANIAN HARI INI sudah bisa dipesan! Take it All only 200k!!