Hari Berganti
Gerimis masih mengguyur malam
Dengan dingin yang sejuk
Jatuh air lalu mengalir
Entah kemana akan bermuara
Sementara orang-orang tidur
Berselimut hangat di ranjang-ranjang mereka
Memeluk guling dan mulai bermimpi
Entah kemana jiwa mereka melayang
Ada kemilau dilangit
Apakah itu engkau?
Yang kini gemilang diatas sana
Dan aku
Hanyalah lentera kecil di ujung gelap
Merangkai kata menjadi rima
Mengeja rasa yang kian kalut
Tertusuk-tusuk hujan di malam ini
Pertanyaan mereka terus menggerus telingaku
Disebagian detik aku merasa ada yang berbisik
Berbicara tentang kemurnian
Kata yang keluar dari diri
Ialah kata hati
Perantaraku dengan Tuhan
Yang anugrahkan sebuah resah
Menjadikanku sadar
Bahwa manusia hanyalah makhluk biasa
Tiada beda mereka dengan makhluk lain
Kecuali cara mereka merusak yang lainnya
Tak terdengar lagi nyanyian alam
Tertutup ramai desing kata tanpa makna
Tak terdengar tutur luhur kearifan
Tertutup pekat nafsu angkara
Sementara parade masih berjalan
Deruh murka manusia dengan manusia lainnya
Layaknya mesin tanpa jiwa
Kehidupan monoton dibalik meja
Ada tangis terdengar disuatu hari
Ada jerit dikeesokan harinya
Terbujur tak berdaya
Menghadapi bencana
Menghadapi era kehancuran
Berlarian tak tentu arah
Mengusung kebenaran
Seolah merekalah yang paling benar
Dengan dingin yang sejuk
Jatuh air lalu mengalir
Entah kemana akan bermuara
Sementara orang-orang tidur
Berselimut hangat di ranjang-ranjang mereka
Memeluk guling dan mulai bermimpi
Entah kemana jiwa mereka melayang
Ada kemilau dilangit
Apakah itu engkau?
Yang kini gemilang diatas sana
Dan aku
Hanyalah lentera kecil di ujung gelap
Merangkai kata menjadi rima
Mengeja rasa yang kian kalut
Tertusuk-tusuk hujan di malam ini
Pertanyaan mereka terus menggerus telingaku
Disebagian detik aku merasa ada yang berbisik
Berbicara tentang kemurnian
Kata yang keluar dari diri
Ialah kata hati
Perantaraku dengan Tuhan
Yang anugrahkan sebuah resah
Menjadikanku sadar
Bahwa manusia hanyalah makhluk biasa
Tiada beda mereka dengan makhluk lain
Kecuali cara mereka merusak yang lainnya
Tak terdengar lagi nyanyian alam
Tertutup ramai desing kata tanpa makna
Tak terdengar tutur luhur kearifan
Tertutup pekat nafsu angkara
Sementara parade masih berjalan
Deruh murka manusia dengan manusia lainnya
Layaknya mesin tanpa jiwa
Kehidupan monoton dibalik meja
Ada tangis terdengar disuatu hari
Ada jerit dikeesokan harinya
Terbujur tak berdaya
Menghadapi bencana
Menghadapi era kehancuran
Berlarian tak tentu arah
Mengusung kebenaran
Seolah merekalah yang paling benar
Komentar
Posting Komentar