Mutiara yang hilang
Hingga kumandang itu
Aku masih terjaga
Mengeja kantuk yang tidak juga aku mengerti
Apakah ini pertanda
Bahwa aku harus berhenti
Untuk membenci pagi
Bahwa dalam pagi
Ada kesejukan yang kucari selama ini
Tiada guna menghitung purnama
Apalagi menghitung napas yang keluar masuk
Nikmat Tuhan yang tak layak aku hitung
Di dasar ketakutan akan mati
Yang senantiasa menghiasi pejam mataku
Sementara aku mengenal diriku
Aku merintih sedu dalam kesadaran
Menerima apa yang pantas
Dan menolak apa yang keliru
Sayangnya
Aku masih samar akan benar dan buruk
Aku masih jauh dari kata murni
Masih jauh dari jemari Tuhan
Yang setiap malam membelai dalam tidur nyenyakku
Betapa beruntungnya aku
Diberi keresahan yang menyadarkanku
Bahwa hidup bukan sekedar mengeja rindu
Bukan perkara meniti jalan penderitaan
Tapi merangkai kesadaran
Bahwa hidup ialah mencari kebenaran
Sebelum dijamu oleh pertanyaan
Pada ajal pembalasan yang kelam
Aku masih terjaga
Mengeja kantuk yang tidak juga aku mengerti
Apakah ini pertanda
Bahwa aku harus berhenti
Untuk membenci pagi
Bahwa dalam pagi
Ada kesejukan yang kucari selama ini
Tiada guna menghitung purnama
Apalagi menghitung napas yang keluar masuk
Nikmat Tuhan yang tak layak aku hitung
Di dasar ketakutan akan mati
Yang senantiasa menghiasi pejam mataku
Sementara aku mengenal diriku
Aku merintih sedu dalam kesadaran
Menerima apa yang pantas
Dan menolak apa yang keliru
Sayangnya
Aku masih samar akan benar dan buruk
Aku masih jauh dari kata murni
Masih jauh dari jemari Tuhan
Yang setiap malam membelai dalam tidur nyenyakku
Betapa beruntungnya aku
Diberi keresahan yang menyadarkanku
Bahwa hidup bukan sekedar mengeja rindu
Bukan perkara meniti jalan penderitaan
Tapi merangkai kesadaran
Bahwa hidup ialah mencari kebenaran
Sebelum dijamu oleh pertanyaan
Pada ajal pembalasan yang kelam
Komentar
Posting Komentar