Di Sudut Ruang Diskusi Berujung Debat Berisi Kutukan



Di sudut ruang, aku sendiri mendekam sepi. Mendengar perbincangan warung yang berbicara ide dan realita. Berbincang filsafat, tentang ide dan realita. Nampaknya seru untuk bergabung. Dengan logatnya yang khas daerahnya, ia nampak dominan dalam forum tersebut. "Dari ide dan realita ya realita itu sendiri", kemudian ia menyeritakan tentang tokoh televisi yang sedang tenar saat ini. Perkara falsafah ialah perkara omong kosong. Lambat laun, aku mengerti bahwa ia seorang mahasiswa hukum yang sedang mengenyam pendidikan strata satu di kampus islam tak jauh dari sini. Seorang yang lain nampak telah jenuh, karena orang yang berbicara tadi tak mau mendengar pendapat orang lain. Kemudian orang pertama mengatakan bahwa lawan bicaranya mesti belajar tentang jati diri pohon. Katanya pohon banyak dibenci orang, tapi banyak manfaatnya. Sial. Aku mendengar orang yang khas dengan logatnya itu merasa tinggi karena banyak dan cepat membaca buku. Ia berkata, "kamu ini sering ngopi sama orang ibu kota pulau di jawa timur itu". Takut aku. Bukan karena perkataannya yang keras. Tapi, perkara ilmu buku yang di Tuhankan. Setelah itu ia menantang lawan bicaranya untuk membaca pengantar ilmu hukum. Harapku, di diskusi ini bukan perdebatan seperti minyak dan air. Yang tidak saling mengerti. Mereka mengagungkan argumen-argumen para ahli hukum. Teori digabungkan realita menjadi kacau. Tak akan sama, teori dari pemikiran. Sementara realita berasal dari suatu kenyataan.

Waktu semakin berlalu dan perdebatan masih berlanjut. Aku sudah mulai bosan dengan perdebatan. Penolakan antar pemikiran, semakin tinggi nada yang digunakan. Semoga asbak di meja tidak dilemparkan ke muka lawan bicaranya. Masih perkara buku, buku dan buku. Apa mahasiswa hukum seperti ini yang akan menjadi bendera-bendera yang digantung di pelataran teras? Buku dibakar.

Buat apa memahami?

Aku kian enggan, ingin rasanya pulang. Tapi, aku mencari mutiara dalam lumpur. Lambat laun ia berbicara tentang makna kopi. Duh, sejarah terus berulang. Andai pohon tak dibawa - bawa, mungkin aku tak akan bertahan disini hingga jam segini. Sabar. Saat pulang akan tiba.

Ya. Nada mereka semakin merendah. Semoga perdebatan segera usai dan salah satu dari mereka mau mengalah. Entah siapa yang akan dikerdilkan. Oh, aku dapat informasi bahwa orang dengan nada tinggi itu merupakan mantan tetinggi organisasi ekstra kampus (pergerakan) di kampus itu.

Aku pungkasi dulu kata-kataku yang singkat karena ada yang datang menemaniku yang pulang dari lingkar lain. Mungkin akan disambung pada tulisan lain. Aku mengutuk diriku sendiri karena aku sadar bukan orang yang berkompeten dan bisa menjadi penengah di perdebatan itu. Semoga kelak aku bisa. Semoga semoga semoga~

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Parade Kematian 2021

Duel Pecel Tumpang vs Pecel Lele! Fafifest Gemparkan Permusikan Kediri

Merchant PERTANIAN HARI INI sudah bisa dipesan! Take it All only 200k!!