Dingin Kota dan Kegundahan



Seperti malam biasanya, udara dingin dan angin sejuk kota Malang menyelimuti warung kopi. Dimana banyak orang berbincang dan sebagian menunduk menatap layar. Ada yang membicarakan filsafat, menyombongkan diri membaca madilog berkali-kali dengan logat daerah yang kental. Ada pula yang berbicara budaya nepotisme yang ia banggakan di organisasinya, organisasi tua yang terstruktur, namun nepotisme buta menjadikannya runtuh. Bukan runtuh organisasinya, bukan bubar. Tapi, runtuh nilai perjuangannya. Padahal tetua mereka membangun dengan peluh dan modal pikiran yang bagus.

Di sudut sepi, aku sendiri menghisap oksigen yang menjadikanku sedikit segar. Beberapa hari ini kekalutan semakin kalut saja rasanya mencabik-cabik jiwaku. Keruh permasalahan dan tuntutan atas dunia esok yang mungkin semakin semrawut. Aku pesimis ketika anak-anak muda dicekoki pemahaman dangkal atas nilai kearifan leluhur. Solidaritas yang dibangun karena derita yang disetting seniornya, bukan solidaritas yang patut dibanggakan. Riuh redam dunia organisasi, berjalan kesana kemari. Aku takut, mereka berjalan sendiri. Melalui jalan-jalan penuh lubang, penuh duri, dalam gelap, tanpa berbekal lentera sebagai penerang.

Pada akhirnya, mereka akan bimbang. Bukan perkara uang yang mencekik atau kesibukan yang membelit. Tapi, mereka sadar bahwa dalam dunia ini mereka sendiri. Termangu-mangu menatap iklan berlampu neon. Meratapi jelaga demi jelaga tanpa telaga. Tenggelam kedalam palung kenistaan. Memaknai hidup sebagai ladang eksploitasi diri mereka sendiri. Berlenggang diatas panggung dengan sikap acuh akan nilai. Sementara hati nurani mereka berkata bahwa kita mrngikuti arus yang salah. Kita kesini karena pengaruh angin yang akhirnya membawa pada titik ini. Akan kemanakah engkau setelah ini? Apakah menjadi patriot yang berteliak lantang di ujung senapan, atau menjadi jiwa yanh terabaikan di ujung malam?

Pertanyaan menjadi keresahan. Dimana? Kemana? Mengapa? Bagaimana? Haruskah? Beginikah?

Sementara palang pintu perlintasan menyanyikan lagu perjuangan, lampu lalu lintas mengatakan bahwa jalan mesti ditambah dan lubang - lubang dijalan ditutup oleh janji-janji palsu para birokrat yang berkhotbah tentang keadilan dan kesejahteraan. Padahal disamping mereka, petugas kebersihan sibuk menyapu jalan hingga berpeluh di pagi buta. Siapakah kita ini? Bukankah pertanyaan ini? Atau, siapakah aku ini? Mungkin, engkau mulai bosan dengan puisi dan kata indah para penyair. Tapi, percayalah. Dalam hati kecilmu ada yang memanggilmu untuk kembali kesini. Pelukan keprihatinan terhadap iklim pendidikan dan kemanusiaan hari ini. Semoga tetap konsisten dalam menjaga kesadaran. Sadar bahwa parlemen hanya berisi boneka-boneka saja. Sementara dalangnya sedang mengatur kisah dan jiwa yang melayang-layang. Pamplet lapuk kondisi darurat. Apalah arti berpikir jika jauh dari kondisi lingkungan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Parade Kematian 2021

Duel Pecel Tumpang vs Pecel Lele! Fafifest Gemparkan Permusikan Kediri

Merchant PERTANIAN HARI INI sudah bisa dipesan! Take it All only 200k!!