Realita yang Fiktif



Pagi ini nampak mendung sudah mulai sembunyikan cahaya mentari. Hingga menjelang sore, cahaya matahari berusaha menembus celah-celahnya yang kian pekat. Masih di kedai kopi yang sama dengan semalam, suara lagu mendayu dari dalam warung, bertemankan kopi dan kupu-kupu yang menari diantara tanaman. Menghiasi lorong samping warung kopi yang sedianya kosong.



Tepat dibelakangku, dua orang timur sedang bersenda gurau tentang aksi massa. Tentang kapitalis yang mencekik yang kemudian dihajar oleh mereka yang resah. Tapi, guyonan tentang bangkitnya kapitalis baru dan koruptor keparat baru yang lahir dari rahim aksi massa tersebut menjadikan kekalutan kian meradang. Aku melihatnya, mereka yang dahulu berteriak dijalan-jalan, berorasi tentang kesejahteraan dan omong kosong keadilan, kini menduduki kursi-kursi parlemen. Sebut saja si Fulan. Yang dahulu berdiri menantang orba, dengan jiwa mudanya yang membara. Masuk keluar ruang pengadilan. Membawa fatwa hukum yang akhirnya meruntuhkan dominasi orde kala itu. Kini ia berada di pihak rezim yang baru. Rezim dengan muka polos, dengan wajah kalem. Namun, disebagian waktu ia teriakan "LAWAN YANG MENGOLOK-OLOKNYA". Berarti ia sudah mulai lupa, bahwa pemimpin tempat dimana cacian dan makian itu dilayangkan. Dahulu, pemimpin arif tetap sabar meski dilempar kotoran binatang. Ia tetap membalas kaum yang melempari dengan lemparan kebaikan. Melalui lembut kata dan budi. Menjadikannya sadar, bahwa umpat benci, caci maki bukan komoditas yang baik untuk dihadirkan di dunia. Kecuali untuk media yang dengan senang dengan prahara dan pertarungan. Kaidah jurnalis negeri ini tetap pada "Good news is a bad news". Apakah memang benar begitu?



Masih bersama selisong rokok daerah asalku yang kuhisap untuk menenangkan pikiranku yang kacau. Akibat mimpi dan realita yang semakin dekat. Mencabik-cabik kesadaran antara yang fiksi dan kenyataan. Aku laki-laki yang terombang ambing oleh rupa. Dibutakan oleh paras dan tutur lembut. Terjerembab pada omong kosong kasih sayang yang sejatinya hanya cumbu penuh nafsu. Ya, aku tau. Mereka membutuhkannya.

Aku tak memungkiri bahwa kebutuhan biologis manusia untuk mendapat kepuasan lawan jenis. Tapi menjadi ancaman. Tat kala itulah yang menjadi alasan dari pertemuan. Padahal aku menghormatinya sebagai perempuan terhormat. Namun, ia menghinakan dirinya sendiri. Aku tak mau berbicara tentang benar dan salah. Karena hal itu ialah hal nisbi jika sekat antara kubu pro dan kontra masih tinggi. Kemurniannya kian jauh tat kala dogma sesat menyeruak dari balik tabir. Yang bersembunyi di sebagian hati para pendengki. Kedengkian, dendam. Menjadikannya asal muasal dimana perang abadi antar suku dan golongan. Aku tetap menjadi pendengar mereka yang bicara omong kosong falsafah kehidupan. Sendiri dalam naungan semesta yang bisu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Parade Kematian 2021

Duel Pecel Tumpang vs Pecel Lele! Fafifest Gemparkan Permusikan Kediri

Merchant PERTANIAN HARI INI sudah bisa dipesan! Take it All only 200k!!