Pecahan Gelas
Pecahan gelas itu sungguh mengerikan
di sudut dapur merindukan darah. Sementara laki dan perempuan
yang kawin atas nama angin telah saling membelakangi.
Pecahan gelas itu mengutuk kenyataan hidup
cinta yang cuma dipajang di lemari kaca. Telah berdebu
Lantai pun tak lagi sudi meditasi, mendoakan ranjang
agar tetap sabar tak mengamuk
Tuhan, pecahan gelas itu menyerang mata kehidupan
seperti kemiskinan yang tiba-tiba liar di jalan-jalan
Sedangkan laki dan perempuan itu menjelma ular
yang melingkarkan rasa kecut.
Anak-anak pun harus rela menjadi tiang-tiang kurus
menatap masa depannya yang cemas
Komentar
Posting Komentar