Bajingan di Ujung Hayat

Di sudut kota, di kala senja telah menghilang dan jalanan mulai sepi. Seorang bajingan duduk di bawah lampu jalan, bersandar pada keresahan atas arti kehidupan. Sembari meneguk alkohol dan menghisap sebatang lisong yang terselip di jemarinya.
Berbisik pelan dalam gumaman, "apakah masih ada kejahatan yang belum kulakukan? Membunuh pun sudah biasa, memperkosa sudah hal lumrah, menjarah ialah makanan sehari-hari, ibadah tak pernah, sok kuasa ialah darah dagingku. Ah, nampaknya kejahatan hanyalah seperti ini. Mungkin ini sudah saatnya".
Ia meneguk kembali alkohol dalam botol dan pikirannya pun mulai melayang karena didapatinya alkohol racikan itu memiliki kadar alkohol di atas normal. Kemudian ia terkulai lemah di sudut jalan, "Jikalau ini napas terakhirku kuberikan ia untuk menyebut nama orang tuaku yang tak sempat aku banggakan, malah aku sering membuat mereka malu dengan keadaanku saat ini".
Kemudian ia pun tak sadarkan diri. Sekiranya sudah beberapa hari hingga akhirnya perlahan matanya mulai terbuka. Di dapatinya infus tersalurkan di tangannya dan berbagai alat medis silih berganti mengeluarkan suara yang khas.
"Bib.... Bib... Bib...."
Perawat datang untuk memastikan kesadaran pasien. "Siapa yang membawaku kesini?",tanya bajingan itu pada perawat. "Saya kurang tau, pak. Seorang yang mengayuh becak setahu saya. Ia menolak ketika kami dari pihak rumah sakit menanyakan identitas beliau".
Sialan, apakah tangan Tuhan masih mau membantu bajingan seperti ini? Yang berlumur dosa dan tak mengenal ibadah pada Tuhan? Seperti halnya kegelapan di ujung palung, atau sebuah zat yang benar-benar hina. Gelap.
Seketika jibril turun memberi hidayah kemudian tak lama izroil mengelus ubun-ubunnya dan kemudian menarik jiwanya ke awal yang baru. Setidaknya dalam gelap masih ada harapan akan datangnya terang. Meski tak tahu kemana jiwanya akan berlabuh, entah surga atau neraka. Yang jelas, Tuhan Maha Mengetahui segala yang ada bahkan isi hati manusia. Tuhan Maha Baik.
Komentar
Posting Komentar