Bisikan Lembah

Jika cinta memang perihal menciptakan dan mempelihara lara, maka biarlah aku menjadi jerit atau raung yang mengiringi kesedihanmu. Meski manusia secara fundamental mencari kebahagiaan dan menjauhi lara, sebagian mereka memilih tersiksa dalam keadaan yang menjadikannya hidup. Membingungkan? Baiklah, akan aku sodorkan padamu sebuah kopi di sebuah lereng gung sembari menikmati turunnya kabut. Apakah kau merasakan dinginnya atau hangatnya? Hidup memperlukan fokus. Meski kenyataan sering kali mendorong manusia pada jurang nan samar.

Pada bilik tua yang kujadikan dangau persinggahan, aku berpesan pada setiap kebebasan yang syarat akan tapal batas. Pada sebuah sangkar yang kutemui jerujinya. Sebuah tembok megah berdiri di kaki langit, menyisir hutan yang kian samar tertutup kabut. Kebebasan sama halnya omong kosong. Semakin kau berharap bebas maka saat itu juga kau menemui kekecewaan. Sama halnya dengan kemerdekaan yang saat ini kita enyam.
Saat ini, diatas mimbar para elit berkata, "kami akan membela kebenaran dan keadilan demi terwujudnya kesejahteraan sosial". Padahal kebenaran dunia ialah hal yang nisbi. Pada khotbah, orang-orang suci memproklamirkan kebenaran mutlak. Sayangnya, kebenaran itu diperalat menjadi komoditas politik. Politik saat ini keruh. Bukan karena politiknya, tapi orang-orangnya. Bulan membual telah tiba. Dan pesta kera memasuki jam gilanya. Pilihan politik mengerdilkan akal sehat. Sialnya, akal sehat sendiri menjadi alat politik. Duh gusti. Untung di dunia ini masih ada oase segar ditengah prahara yang kalut. Ialah ruang bincang dengan senyum ikhlas nan tulus. Yang terus terang tentang rasa. Kemudian cinta luruh pada dinding waktu.
Komentar
Posting Komentar