Di Sudut Sepi Ruang Imaji

Pada sudut kota Malang yang ramai. Bersamaan hadirnya sepi di malam hari. Ada yang masih menyimpan dendam. Sebelum terbitnya matahari, ijinkan aku menghaturkan syukur pada nikmat Tuhan yang tiada kira.
Aku masihlah seperti dahulu. Seorang pemuda yang menyusuri lorong gelap. Mencari lentera sebagai penerang. Menari kemudian lenyap ditelan zaman. Bukankah kita ini manusia? Makhluk lemah namun merasa digdaya. Pelupa dan sering kali jauh dari kata pintar. Manusia sejatinya hanya ingin bahagia. Bisa dengan cara membahagiakan orang lain, atau bahagia sendiri.

Bulan nampak lengkungan senyumannya. Hari baru membawa cerita baru. Sebagian terjerembab pada rutinitas yang monoton. Sebagian mencari celah agar keluar agar tiada alasan untuk mati sebelum berjuang. Seorang pemuda tergeletak lelah di warung-warung. Mungkin karena tiada lagi tempat bernaung yang dinamakan rumah. Atau, mereka anggap semesta ialah rumah bagi mereka. Sebelum kelam semakin menekam, puisi dilarung di musim sendu yang mendung. Menelusuri kata, merangkai kalimat. Mencari yang dicari dalam dunia yang sangat dinamis.

Orang berkata perbedaan membuat bangsa ini kaya. Sebagian bahkan dengan lantang memproklamirkan kesamaan. Kelahiran dari sebuah air mata tiga setengah abad yang didasari kesadaran berjuang. Namun, di masa dimana sumpah serapah dengan lantang dikumandangkan, peperangan merajalela, caci maki menjadi makanan sehari-hari. Di dunia maya, dimana jari-jari menari diatas layar, mereka berebut pengaruh di bawah tekanan. Bagaimana tidak? Zaman seperti beralih pada dunia yang semakin sempit. Kemudahan akses yang malah memperlemah manusia yang pada dasarnya sudah lemah. Bukankah begitu?

Sementara mesin ketik merangkai berita bohong yang kemudian disebar. Meracuni otak dengan kebencian. Manusia tukang kutuk menduduki podium-podium dengan melontarkan cacian pada lawan golongan. Oligarki terus berlenggang meski telah beberapa kali pemimpin berganti. Pesta demokrasi serupa pesta para monyet. Kata tanpa makna, rupa sok intelek dan merasa paling negarawan diantara yang lain.

Kita perlu merendah tanpa direndahkan. Menjunung nilai luhur yang kaya akan kearifan. Menjadi oase di tengah prahara. Menjadi solusi di tengah kekalutan dunia. Biarlah parlemen bermonolog tentang omong kosong keadilan. Kita telah adil sejak dalam pikiran. Perlu untuk menelan jutaan problema, agar pikiran terbiasa menemukan solusi. Menjadi penghibur bukanlah hal yang hina. Kecuali ketika hiburanmu hanya berisi tontonan tanpa tuntunan. Nilai kearifan bangsa ada pada diri kita. Naluri manusia sebagai makhluk yang berjiwa dan merasa perlu untuk diasah agar semakin halus. Sementara logika perlu dipertajam.
Biarlah aku ini menjadi contoh buruk kehidupan. Yang telah menelan berbagai keburukan dan kejahatan. Bajingan memang. Tapi, setidaknya menjadi pelajaran generasi berikutnya. Bahwa harapan perlu dibangun. Agar hidup tidak sekedar menunggu mati.
Komentar
Posting Komentar