Doa Hidup

Seorang berkisah tentang dunia. Dengan segala peluh yang menetes diatas tanah yang kering. Dengan segala air mata yang menetes di tengah kecamuk gelombang air bah. Sementara ia bergumam akan riuh dalam sendiri. Mungkin Tuhan sedang temangu di singgasananya, sembari menghisap sebatang rokok dan menikmati air khamr dari surga-Nya. Atau sedang menulis karena kesibukan manusia yang lucu dengan segala tingkah kocaknya.

Bukankah tanah ini ialah ladang bagi tanaman, yang akan di panen dikala musimnya telah tiba? Atau dipetik buahnya karena alasan ekonomi yang menyebabkannya dipanen lebih dini?

Oh Tuhan, jika aku ialah tanah, maka aku ini sejatinya adalah tanah yang gersang. Yang jauh dari kekayaan hara yang membuatnya subur. Sehingga banyak orang enggan menanam diatasku. Sementara mereka ialah tanah yang subur, yanh mudah ditanami berbagai tumbuhan. Yang pada akhirnya akan disemai dan diperjual belikan pada saatnya nanti. Aku bersyukur dilahirkan seperti ini. Setidaknya hanya orang yang terpelajar dengan kegigihan semangat dan ketulusan hati yang bisa menanam di atasku. Ah, nampaknya dunia ini begitu indah dengan kehadiran mereka. Sedangkan aku hanya akan menjadi beban karena pengalamanku pada revolusi hijau. Yang membuatku menjadi miskin hara dan gersang.



Saat ini, dikala kabut menyelimuti lembah dan omong kosongnya bernapas lembut di telingaku, aku terpana dengan dingin dan sepinya. Membuatku sadar bahwa cinta yang tulus ialah ketiadaan yang ada. Bahwa keberadaannya tidak dimengerti golongan yang merasa benar atau bahkan merasa suci. Tapi dari mereka yang masih disibukan oleh gelap yang akhirnya membuatnya mendamba pada cahaya. Cahaya agung yang terang namun tidak menyelimutkan. Cahaya mulia yang tinggi namun dekat dengan sanubariku. Ialah cahaya diatas cahaya. Dan gelapku ialah hal yang sering tidak disadari kebanyakan orang. Sejatinya aku malu jika ada orang yang mengecap diriku sebagai manusia. Padahal sejauh ini aku hanyalah seonggok daging yang bernama. Dimana namaku ialah doa yang dinisbahkan orang tua yang menyayangiku. Atau mungkin lebih tepatnya diberikan sebagai hidayah Tuhan melalui Jibril kepadaku.



Nampak jalanan mulai melenggang, pertanda sirkus malam dan gelapnya mulai menari. Bintang-bintang tampak berpijar bersama purnama yang teduh. Sementara seorang tergeletak lemah di depan toko beralaskan kardus dan berselimutkan sarung. Dengan baju yang lusuh dan kumuh. Jauh dari kesucian dan kemuliaan. Namun, kusadari bahwa disanalah harapan hidup terus diuji. Mereka serupa gelap yang ada padaku, namun aku lebih beruntung dari padaNya secara materi. Tapi, aku lebih merugi secara kekayaan hati untuk menerima kenyataan yang kalut. Berbahagialah kalian yang terpuruk meniti nasib yang teramat pahit. Ketahuilah, aku bersama kalian.

Komentar

  1. Prakasita Mayura Sari25 Maret 2019 pukul 13.55

    Cahaya yang abadi ialah apabila minyaknya bukan dari timur atau barat, tapi menyala dengan sendirinya. Karena sumber cahayanya adalah cahaya di atas cahaya.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Parade Kematian 2021

Duel Pecel Tumpang vs Pecel Lele! Fafifest Gemparkan Permusikan Kediri

Merchant PERTANIAN HARI INI sudah bisa dipesan! Take it All only 200k!!