Hujan dan Kita, Manusia?
Hujan kembali turun, kekasih. Ia kembali datang meski orang berkali-kali memaki. Tak mempedulikan kata mereka. Ia terus turun memberi basah pada tanah. Jika tanah tak dapat lagi menyerap airnya, ia akan mengalir ke sungai, kemudian permukaan sungai semakin tinggi. Ikan-ikan semakin senang menari di dalam sungai. Sementara kodok bernyanyi bersautan menyanyikan kidungnya, yang bicara tentang kearifan di tengah nestapa.
Ketika keseimbangan tak lagi terjaga, berkah ini akan menjadi bencana. Sungai akan semakin dangkal karena erosi di hulu. Ikan tak lagi berenang karena kualitas air yang buruk. Kemudian, akibat ulah manusia yang terus menerus menghabiskan hutan yang menjadikan longsor di lereng gunung dan banjir di daerah hilir. Na'asnya, mereka menyebut Tuhan dalam doa mereka. Sembari terus merintih dalam derita yang dikarenakan diri mereka disini. Seumpama Tuhan sedikit cuek dan sensitif seperti perempuan yang sedang PMS, mungkin ia berkata, "Salah siapa coba? Biarin. Itu bukan urusanku lagi. Aku muak". Tapi, untunglah Tuhan Maha Pengasih dan Penyayang kepada makhluk-Nya. Ia menurunkan hidayah berupa ilmu konservasi pada mereka yang beruntung. Sialnya, tidak semua yang diberi ilmu lantas mengamalkan ilmunya. Malah, sibuk memperkaya diri sendiri dan menimbun harta hingga tertimpa berat perutnya sendiri.
Ah, alam. Masih adakah yang masih peduli. Ditengah bencana yang kian berkecamuk dan perang yang semakin meradang, akua berharap semoga golongan yang peduli diberi jiwa yang kuat untuk menjaga dan melindungi. Meski mereka akhirnya tak sanggup ketika yang kaya bergandeng mesra dengan korporat bangsat, yang menjadikan alam sebagai objek pemuas hasrat mereka. Oleh mereka, alam yang cantik diperkosa. Hingga merintih perih, kemudian ketika mereka sudah puas, lantas pergi tanpa dosa. Mereka tak membayar sepeserpun untuk jasa yang telah diberikan alam. Orang-orang seperti ini, akan tertelan dalam kerakusannya sendiri. Suatu saat, hutang itu akan dibayar lunas. Entah di dunia atau kelak di akhirat dengan kepedihan yang berkali-kali lipat. Semoga kita termasuk orang yang beruntung.
Komentar
Posting Komentar