Manusia di Ujung Kebimbangan
Pagi telah tiba. Pertanda anak-anak mimpi kita telah wafat ditelan memori otak yang terbatas. Hanya beberapa yang masih terngiang di kepala. Tapi mimpi hanyalah mimpi. Bukan wahyu yang disampaikan Jibril karena kita hanyalah manusia biasa. Bukan para nabi, wali apa lagi rasul dengan segala mukjizatnya. Keajaiban akan terbelahnya bulan hingga makanan jatuh hanya dongeng di masa rasul, kini kita dihadapkan dengan realita yang rumit lagi mencekik.
Sebagian menemukan rasa syukur di balik batu besar nan berat bernama rasa kufur akan nikmat. Bersembunyi di dalam goa atau keheningan nan gelap tanpa cahaya lentera yang menerangi. Kini banyak orang lupa bersyukur yang menyebabkan banyak orang yang jatuh. Mereka jatuh ke dalam palung terdalam di dunia yang bernama kesedihan, depresi dan sebutan lain yang menggusarkan jiwa. Sementara makanan jiwa ialah kesejukan yang dibawa Tuhan berupa sentuhan jemarinya yang mengelus halus ubun-ubunmu. Tak jarang Ia menyentuh qolbumu yang membuatmu bergetar tat kala asmanya disebut.
Di dunia yang panas, di tengah perang yang masih dan terus berkecamuk ini. Tidak ada lagi rasa persaudaraan apa lagi saling mencintai. Perdebatan berakhir saling bunuh menjadi hal lumrah. Merasa paling benar, merasa paling tinggi, merasa paling berkuasa. Tak peduli martabat dan keluhuran diinjak yang penting uang partai mengalir deras. Sama seperti anjing-anjing penjaga yang kelaparan. Mereka diperbudak materi sehingga bekerjalah mereka seperti mesin. Tanpa rasa, tanpa cinta. Perintah atasan ialah perintah Tuhan.
Menuju akhir yang semakin dekat. Ku melihat bencana datang silih berganti, namun mereka masih disibukan dengan saling sikut satu sama lain. Banyak golongan hipokrit tertawa cekikikan seperti suara hyena yang puas setelah menyantap seekor kerbau. Ada yang bertampang religius, namun kelakuannya tak lebih dari germo di pelacuran. Ada juga pemimpin yang arif, namun menyikat habis tanah-tanah adat berdalih untuk pembangunan nasional. Ah, nampaknya mereka belum sadar kekuatan rakyat ini pada akhirnya tak terbendung. Ada saatnya rakyat akan bangkit untuk memenggal oligarki. Dikerek kepala mereka ke tiang bendera dan darah kebusukan itu akan mengalir sebagai awal dari tirani baru.
Dalam bualan di warung kopi, kupu dan belalang ku lihat akrap melahap sarapan nasinya. Sementara manusia masih meradang dengan sarapan api dan nyawa sesamanya. Kepedulian dibuang ke tempat sampah. Tergeletak tak bernyawa. Korban dari revolusi industri yang telah menginjak versi 4.0 ialah politik, sosial dan kemanusiaan. Dimana mereka telah terkerdilkan dan menjadi alat kekuasaan yang melanggengkan penderitaan. Kemanusiaan tiada ditemui di bumi manusia. Sosial yang luhur tidak ditemui di meja penuh api angkara. Kini, pemuda itu termangu bingung di bawah pendar mentari yang menembus sela-sela pepohonan. Menanti wahyu dari Tuhan, sementara ia belum mengerti makna mencari kearifan. Bahagialah mereka yang pandai dalam mencuri waktu, karena ia adalah harta paling mahal. Bahagialah mereka yang bersyukur, apalagi mereka yang menyadari derita ialah nikmat dunia tiada tara. Berbahagialah manusia, jangan pura-pura murung. Disana ada yang menanti senyum manismu. Dan kebahagiaan mesti disebarkan.
Sebagian menemukan rasa syukur di balik batu besar nan berat bernama rasa kufur akan nikmat. Bersembunyi di dalam goa atau keheningan nan gelap tanpa cahaya lentera yang menerangi. Kini banyak orang lupa bersyukur yang menyebabkan banyak orang yang jatuh. Mereka jatuh ke dalam palung terdalam di dunia yang bernama kesedihan, depresi dan sebutan lain yang menggusarkan jiwa. Sementara makanan jiwa ialah kesejukan yang dibawa Tuhan berupa sentuhan jemarinya yang mengelus halus ubun-ubunmu. Tak jarang Ia menyentuh qolbumu yang membuatmu bergetar tat kala asmanya disebut.
Di dunia yang panas, di tengah perang yang masih dan terus berkecamuk ini. Tidak ada lagi rasa persaudaraan apa lagi saling mencintai. Perdebatan berakhir saling bunuh menjadi hal lumrah. Merasa paling benar, merasa paling tinggi, merasa paling berkuasa. Tak peduli martabat dan keluhuran diinjak yang penting uang partai mengalir deras. Sama seperti anjing-anjing penjaga yang kelaparan. Mereka diperbudak materi sehingga bekerjalah mereka seperti mesin. Tanpa rasa, tanpa cinta. Perintah atasan ialah perintah Tuhan.
Menuju akhir yang semakin dekat. Ku melihat bencana datang silih berganti, namun mereka masih disibukan dengan saling sikut satu sama lain. Banyak golongan hipokrit tertawa cekikikan seperti suara hyena yang puas setelah menyantap seekor kerbau. Ada yang bertampang religius, namun kelakuannya tak lebih dari germo di pelacuran. Ada juga pemimpin yang arif, namun menyikat habis tanah-tanah adat berdalih untuk pembangunan nasional. Ah, nampaknya mereka belum sadar kekuatan rakyat ini pada akhirnya tak terbendung. Ada saatnya rakyat akan bangkit untuk memenggal oligarki. Dikerek kepala mereka ke tiang bendera dan darah kebusukan itu akan mengalir sebagai awal dari tirani baru.
Dalam bualan di warung kopi, kupu dan belalang ku lihat akrap melahap sarapan nasinya. Sementara manusia masih meradang dengan sarapan api dan nyawa sesamanya. Kepedulian dibuang ke tempat sampah. Tergeletak tak bernyawa. Korban dari revolusi industri yang telah menginjak versi 4.0 ialah politik, sosial dan kemanusiaan. Dimana mereka telah terkerdilkan dan menjadi alat kekuasaan yang melanggengkan penderitaan. Kemanusiaan tiada ditemui di bumi manusia. Sosial yang luhur tidak ditemui di meja penuh api angkara. Kini, pemuda itu termangu bingung di bawah pendar mentari yang menembus sela-sela pepohonan. Menanti wahyu dari Tuhan, sementara ia belum mengerti makna mencari kearifan. Bahagialah mereka yang pandai dalam mencuri waktu, karena ia adalah harta paling mahal. Bahagialah mereka yang bersyukur, apalagi mereka yang menyadari derita ialah nikmat dunia tiada tara. Berbahagialah manusia, jangan pura-pura murung. Disana ada yang menanti senyum manismu. Dan kebahagiaan mesti disebarkan.
Komentar
Posting Komentar