Mati Bahagia



Waktu menunjukan jam pulang. Orang-orang mulai ramai memadati jalan. Terlihat polisi mengatur lalu lintas yang kacau. Melihat emosi orang-orang kota yang nampaknya telah muak. Menelan hal yang sama setiap harinya. Rutinitas membosankan yang mendekatkannya pada keputus-asaan.

Sementara di desa, petani nampak berangkat ke sawah. Tat kala sore, ditemani burung dan angin semilir. Kadang hujan datang menyapa. Dinginnya tak seberapa, karena sejuknya membasahi jiwa yang renta. Berbicara pada anak-anaknya. Ada yang bernama padi, jagung, tebu dan lain sebagainya. Nelayan nampak mengawasi ombak. Mendengar sabda alam yang memberi kode untuk segera berlayar karena ikan-ikan itu tak sabar untuk ditangkap. Walaupun kenyataannya sering yang ia temui ialah ikan-ikan plastik. Limbah metropolutan.

Mentari terbenam, bulan berlayar. Nampak anak-anak bintang bermain di taman langit. Berlomba tuk buktikan siapa yang paling terang. Ibu bulan nampak hanya tersenyum melihat tingkah anak-anaknya. Sementara ayah surya sedang merantau. Tapi, sinarnya masih memberi penghidupan bagi istri dan anaknya.

Aku hanya tertegun tat kala waktu berkisah. Tentang semesta yang agung, tentang kenyataan yang kalut dan dunia yang semakin tua. Akan ada masanya dunia akan mati beserta seluruh penghuninya. Namun, mereka berpikir untuk membuat sebuah rekayasa untuk hidup di bulan. Mendirikan metropolutan yang tak jauh beda dengan bumi. Produksi menjadi kunci dari usaha, pelayanan menjadi kunci dari pengabdian. Tapi, saat ini, ketika semua telah terbuai dengan omong kosong yang ada di televisi dan radio-radio yang terus menerus berkoar tentang kemajuan zaman, aku memilih untuk kembali ke masa lalu dimana bumi masih muda dan cantik. Masyarakat yang arif dan saling menjaga, sebelum era ketamakan masuk dan manusia yang lemah hanya mampu meminta derita.

Hari ini aku menemukan oase di tengah gurun kebosanan. Ia berani melawan kemonotonan hidup. Meski secara materi susah, tapi memberi ruang lebih jiwa untuk berekspresi. Tanpa tekanan dan paksaan. Hanya ketulusan dan keikhlasan. Ialah pengabdian pada kehidupan. Memberi arti bukan sekedar numpang mandi. Memberi makna bukan sekedar menumpang makan. Memberi dan menerima segala dengan suka cita. Hidup dengan harapan akan mati bahagia.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Parade Kematian 2021

Duel Pecel Tumpang vs Pecel Lele! Fafifest Gemparkan Permusikan Kediri

Merchant PERTANIAN HARI INI sudah bisa dipesan! Take it All only 200k!!