Menjemput Mentari, Menghabiskan Malam



Bulan nampak masih terang. Tergelincir sedikit dari singgasananya. Remang cahaya lampu menyinari orang-orang yang menghabiskan malam dengan bercengkrama. Bersama bertukar informasi, tentang dunia saat ini yang krisis akan manusia yang unik.

Taukah engkau? 80% orang mati muda karena termangu pada kemonotonan. Sementara yang minoritas tersisihkan. Di cap berandal atau preman. Padahal dalam hatinya ada sebuah kebaikan. Padahal dalam pikirnya kaya akan ilmu yang luhur.

Beberapa saat aku bersua, menyampaikan tentang gelora di mendan tempur yang terus menerus menggempur tirani yang kolot. Sebuah raja yang enggan hengkang dari singgasananya. Lumrah ku rasa. Mungkin karena kursi yang empuk berlapiskan emas itu ia dapatkan dari pergempuran sengit sebelumnya. Tapi, tiada keabadian untuk raga seseorang.

Engkau tahu? Manusia nyatanya dapat bercengkrama dengan hewan, tumbuhan bahkan bakteri sekalipun. Tidak percaya? Coba engkau tanam dua mawar di depan rumahmu. Sebagai perlakuan, satu kau siram sembari mengajaknya bicara. Sedangkan yang satu lainnya kau siram tanpa kau ajak bicara. Buktikanlah sendiri. Kadang dalam lelaku mesti di mengerti dari sebuah amalan.

Di malam yang syahdu ini, aku berpikir. Mungkinkah Tuhan menyampaikan wujudnya seperti bakteri? Ia muncul karena lingkungan yang cocok, dan Ia ada meski tak terlihat. Tapi, Ia dibutuhkan dalam bentuk yang baik. Jika kau membayangkan Tuhan merupakan sebuah tirani, mungkin kau perlu mandi tiga kali sehari dengan air yang telah dicampur dengan kelor.

Sementara waktu terus berputar, jemari terus menari di atas mesin ketik yang berisik. Tapi dalam berisik, tetao kutemukan kemurnian. Sebuah oase dalam sebuah gurun. Sebuah kata dari kekasih yang mendayu-dayu. Seperti senyuman gadis yang menggugah jiwamu.

Andai aku bukan bajingan yang terbuang, tentu aku tak sungkan untuk memandumu melalui jalan panjang kehidupan yang teramat kalut. Hingga menemui usia senja yang dihabiskan dengan kegiatan bersama. Menanam bunga atau sayur mayur de kebun belakang. Sembari mendengar dengung lebah di belantara hutan.

Komentar