Merayakan Sepi



Pesan ruang yang berawal tiada. Menjadi sebuah jelaga di udara yang memenuhinya. Perdebatan tentang ada dan tiada masih menyeruak di dalam pikiran. Bahkan, menjadi sebuah cerita tak berujung di meja kita.



Sementara warung semakin ramai. Kita membisu di tengahnya, temangu menikmati alunan lagu yang harmoni. Menusuk kesadaran, mempengaruhi benak otak. Mendayu-dayu. Seketika keresahan menari-nari di panggungnya. Lentik jari tangannya mengikuti alunan dari petikan gitar.



Kopiku semakin dingin. Dikarenakan udara dingin di warung pinggir sawah. Pada angin, kuberpesan tentang telaga di belakang rumah. Tempatku mandi, membersihkan segala hadas di dalam jiwa. Membasahi kekalutan pikiran. Menyegarkan.

Kita bertemu pada sepi karena ramai tak temui arti. Begitu sabda angin kepada hujan, atau kayu kepada api. Kata orang tua dari jogja yang mencari nafkah dari kata.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Parade Kematian 2021

Duel Pecel Tumpang vs Pecel Lele! Fafifest Gemparkan Permusikan Kediri

Merchant PERTANIAN HARI INI sudah bisa dipesan! Take it All only 200k!!