Sacangkir Kopi di Pagi Hari
Sepagi ini, sadarku membawaku ke kedai dimana biasa aku bersua dengan teman-teman. Jam 6 lebih 6 menit. Nampak, penjual mengantuk karena kedai buka 24 jam dan waktu belum menunjukan jam giliran. Suara musik dari pengeras suara di dalam kedai terdengar sayup beradu dengan suara kendaraan yang berlalu lalang di depan kedai. Jalanan kedai ini salah satu alternatif jalan menuju pasar. Sementara jalan kian ramai dan mentari kian menyingsing, merangkak menuju singgasananya, aku termenung di bilik samping sembari menikmati tanaman yang memperbincangkan tentang percakapan manusia semalam. Nampaknya, semalam ada beberapa pemuda duduk disini. Bercerita tentang mengapa dan bagaimana dengan logat masing-masing dan pola pikir masing-masing.
Nampak kopiku telah datang. Pertanda kenikmatan di setiap seruputnya akan terasa. Namun aku masih sibuk dengan perenungan dan menyebat sebatang lisong yang membangkitkan gairah untuk menjalani hari. Aku seorang penulis muda yang masih belajar, memintal sajak, membungkusnya menjadi sebuah rima dan tak jarang menyairkan dalam irama. Namun aku masih jauh dari realita. Jejakku mengasfar menggaris kencana. Bulan semalam haturkan bualan. Mentari pagi ini haturkan materi tentang kehidupan dunia yang kian bising. Namun aku tetap menemukan sepi dalam bisingnya. Ketahuilah, kelak di suatu pagi di tepi telaga, akan datang engkau sebagai bayang yang menyeduh kata-kata manis dalam secangkir bubuk kehidupan yang pahit. Aku merangrang mengais cerita. Kadang akulah cerita itu. Kadang merekalah yang aku tertawakan dalam ceritaku. Tak jarang cacian melayang menjadi layang-layang yang aku terbangkan di semilir angin sore. Bukankah telepon benang ini masih tersambung dengan kegiatan statis yang monoton.
Menyiapkan diri menghadapi dunia kerja yang monoton. Sementara aku masih membutuhkan tutur bijak padi. Siapa yang tak mengetahui filosofi padi yang mengatakan kearifan orang berilmu. Ia berbunyi semakin berisi, semakin menunduk. Dan saat ini mereka yang bertahta ku kira jauh dari kata arif. Seharusnya mereka lebih bijak dalam bertarung memperebutkan tahta. Dan aku, akan tetap menjauhi poros itu dan sibuk menyelami diriku sendiri.
Kopi pagi ini terasa kental dan nikmat. Walaupun tiada beda dengan kopi di waktu yang lain. Yang membedakan adalah harmoni suasana yang tak tergantikan. Ku seruput ulang kopiku sembari terus melanjutkan menulis tentang hikayat semesta yang agung. Namun, waktu akan semakin menekanku dengan segala tuntutannya tentang materi dan usia. Padahal, aku hanya ingin jadi begini saja. Mencintai lebih dari satu gadis dan mencari cinta sejati kepada Gusti.
Mungkin mencintai adalah hal yang buruk bagi seorang depresan sepertiku. Ia mengulang-ulang derita. Kadang aku iba dengan gadis-gadis itu. Apakah mereka tak menemukan cinta di hati lelaki lain. Sementara aku jauh dari kata layak untuk dicintai. Orang tua pun juga tak lupa menitipkan tuntutan untuk segera menyelesaikan studi. Harusnya aku sedikit lebih rajin dan cerdas, mengingat banyak yang mereka korbankan agar aku dapat menempuh studi disini.
Aku seorang pemuda yang menganga tat kala Tuhan menebar cinta-Nya di saat indra perasaku kuaktifkan. Haturkan sebagian cerita tentang gunung dan laut yang sejatinya merupakan suatu kesatuan. Kau tau? Ada secercah cerita kopi yang ditanam di bibir pantai. Ada juga yang menanam bakau di puncak gunung. Ah, mungkin menanam kopi di pinggir pantai masih berguna. Tapi, menanam bakau di puncak gunung? Untuk apa?
Memang benar, Tuhan suka bercanda dengan makhluk-Nya yang suka menggodanya dikala menengadah memuji-Nya. Mungkin, mukjizat yang selama ini kita kagumi merupakan guyonan Tuhan agar manusia tidak terlalu terbuai dengan hingar bingar dunia. Atau mungkin, cerita tentang kearifan lokal itu sengaja Tuhan ciptakan untuk menjaga suatu yang suci dan sakral.
Apakah kalian pernah membayangkan jika kaki memiliki mata? Mereka mungkin tak akan salah dalam mengambil langkah. Atau, apakah kalian pernah membuka mata batin kalin? Dan melihat segalanya begitu indah atau juga melihat segalanya begitu fana. Seperti lantunan fana jingga yang dikisahkan senja pada rembulan. Yang menjadikan kelam sebagai perantara. Serta tilam yang mengisahkan dingklik reot disampingnya. Menanti tapi tak tahu apa yang dinantinya. Aku termasuk orang yang bingung. Menulis tapi tak tahu apa yang kutulis. Merasa tapi tak tahu apa yang kurasa. Bahkan, bingung tapi tak tahu apa yang kubingungkan. Ah, yang penting aku sadar. Bahwa hidup tak sekedar menunggu mati. Maka jadilah arti untuk kehidupan melalui kebermanfaatan atau setidaknya menjadi alasan orang yang kita kasihi tersenyum. Meski bodohnya, kita sendiri sering menderita karenanya. Namun, begitulah pelajaran yang dapat kita ambil. Bahwa tingkat mencintai tertinggi ialah melepaskan dan merelakan. Meski itu hal terbodoh yang terjadi dalam suatu roman. Semoga Tuhan tak lupa memberimu kesadaran untuk merasakan makna setiap napas yang ia berikan. Dan makna cinta yang sejatinya hanya bualan omong kosong para sastrawan yang mengada-ada dengan majas mereka.
Nampak kopiku telah datang. Pertanda kenikmatan di setiap seruputnya akan terasa. Namun aku masih sibuk dengan perenungan dan menyebat sebatang lisong yang membangkitkan gairah untuk menjalani hari. Aku seorang penulis muda yang masih belajar, memintal sajak, membungkusnya menjadi sebuah rima dan tak jarang menyairkan dalam irama. Namun aku masih jauh dari realita. Jejakku mengasfar menggaris kencana. Bulan semalam haturkan bualan. Mentari pagi ini haturkan materi tentang kehidupan dunia yang kian bising. Namun aku tetap menemukan sepi dalam bisingnya. Ketahuilah, kelak di suatu pagi di tepi telaga, akan datang engkau sebagai bayang yang menyeduh kata-kata manis dalam secangkir bubuk kehidupan yang pahit. Aku merangrang mengais cerita. Kadang akulah cerita itu. Kadang merekalah yang aku tertawakan dalam ceritaku. Tak jarang cacian melayang menjadi layang-layang yang aku terbangkan di semilir angin sore. Bukankah telepon benang ini masih tersambung dengan kegiatan statis yang monoton.
Menyiapkan diri menghadapi dunia kerja yang monoton. Sementara aku masih membutuhkan tutur bijak padi. Siapa yang tak mengetahui filosofi padi yang mengatakan kearifan orang berilmu. Ia berbunyi semakin berisi, semakin menunduk. Dan saat ini mereka yang bertahta ku kira jauh dari kata arif. Seharusnya mereka lebih bijak dalam bertarung memperebutkan tahta. Dan aku, akan tetap menjauhi poros itu dan sibuk menyelami diriku sendiri.
Kopi pagi ini terasa kental dan nikmat. Walaupun tiada beda dengan kopi di waktu yang lain. Yang membedakan adalah harmoni suasana yang tak tergantikan. Ku seruput ulang kopiku sembari terus melanjutkan menulis tentang hikayat semesta yang agung. Namun, waktu akan semakin menekanku dengan segala tuntutannya tentang materi dan usia. Padahal, aku hanya ingin jadi begini saja. Mencintai lebih dari satu gadis dan mencari cinta sejati kepada Gusti.
Mungkin mencintai adalah hal yang buruk bagi seorang depresan sepertiku. Ia mengulang-ulang derita. Kadang aku iba dengan gadis-gadis itu. Apakah mereka tak menemukan cinta di hati lelaki lain. Sementara aku jauh dari kata layak untuk dicintai. Orang tua pun juga tak lupa menitipkan tuntutan untuk segera menyelesaikan studi. Harusnya aku sedikit lebih rajin dan cerdas, mengingat banyak yang mereka korbankan agar aku dapat menempuh studi disini.
Aku seorang pemuda yang menganga tat kala Tuhan menebar cinta-Nya di saat indra perasaku kuaktifkan. Haturkan sebagian cerita tentang gunung dan laut yang sejatinya merupakan suatu kesatuan. Kau tau? Ada secercah cerita kopi yang ditanam di bibir pantai. Ada juga yang menanam bakau di puncak gunung. Ah, mungkin menanam kopi di pinggir pantai masih berguna. Tapi, menanam bakau di puncak gunung? Untuk apa?
Memang benar, Tuhan suka bercanda dengan makhluk-Nya yang suka menggodanya dikala menengadah memuji-Nya. Mungkin, mukjizat yang selama ini kita kagumi merupakan guyonan Tuhan agar manusia tidak terlalu terbuai dengan hingar bingar dunia. Atau mungkin, cerita tentang kearifan lokal itu sengaja Tuhan ciptakan untuk menjaga suatu yang suci dan sakral.
Apakah kalian pernah membayangkan jika kaki memiliki mata? Mereka mungkin tak akan salah dalam mengambil langkah. Atau, apakah kalian pernah membuka mata batin kalin? Dan melihat segalanya begitu indah atau juga melihat segalanya begitu fana. Seperti lantunan fana jingga yang dikisahkan senja pada rembulan. Yang menjadikan kelam sebagai perantara. Serta tilam yang mengisahkan dingklik reot disampingnya. Menanti tapi tak tahu apa yang dinantinya. Aku termasuk orang yang bingung. Menulis tapi tak tahu apa yang kutulis. Merasa tapi tak tahu apa yang kurasa. Bahkan, bingung tapi tak tahu apa yang kubingungkan. Ah, yang penting aku sadar. Bahwa hidup tak sekedar menunggu mati. Maka jadilah arti untuk kehidupan melalui kebermanfaatan atau setidaknya menjadi alasan orang yang kita kasihi tersenyum. Meski bodohnya, kita sendiri sering menderita karenanya. Namun, begitulah pelajaran yang dapat kita ambil. Bahwa tingkat mencintai tertinggi ialah melepaskan dan merelakan. Meski itu hal terbodoh yang terjadi dalam suatu roman. Semoga Tuhan tak lupa memberimu kesadaran untuk merasakan makna setiap napas yang ia berikan. Dan makna cinta yang sejatinya hanya bualan omong kosong para sastrawan yang mengada-ada dengan majas mereka.
Komentar
Posting Komentar