Sesepuh Gelap

Kidung mulai dilantunkan. Janji-janji kembali menguap seperti biasa. Cerita-cerita luhur tentang ksatria perang yang terpuruk di ujung laga. Sementara angin memainkan rambut seorang penyair yang haus akan pelukan. Dan ia tak temukan pelukan itu di setiap jiwa yang gersang. Tak beda dengan melawan api dengan api yang menjadikannya padam. Suara iringan gamelan mulai sayup terdengar. Ada yang bernyanyi di sela-sela keheningan. Nampaknya itulah rintihan hati jiwa yang melayang. Kemudian wajah sayu nampak lewat di tengah belantara hutan. Itukah engkau yang menagih janji? Seorang penasehat yang dulu pernah tenar di masanya, sekarang hanya menjadi fosil. Kuikuti langkahnya ke dalam gua. Gua yang gelap. Nampak ada seorang yang tua dan gemuk serta bermata sayu. Duduk menatap perapian. Langkah ku ayunkan untuk mendekatinya. Tak lama ia berucap, "kenapa mesti bimbang, ketika kuasa telah di tiupkan pada rohmu". Nampaknya ia menyadari kehadiranku. "Kemarilah jiwa yang terabaikan, aku bersamamu melalui gelap kenyataan". Aku pun mendekat dan duduk di sampingnya.
Nampaknya purnama sudah tinggi. Samar cahaya menerangi kegelapan hutan. Belantara yang asri, yang masih tak terjamah oleh manusia. Terutama manusia serakah dengan segala dalih yang mereka buat untuk melancarkan aksinya.
"Bukankah Tuhanmu sedang sibuk saat ini, Ia tak memiliki waktu untuk mengurusi jiwa seperti kita. Apa lagi memeluk dan mengelus dengan jemarinya yang lembut dan hangat", sabda orang tua itu. "Kurasa Tuhan masih plesir ke negeri sebelah. Disini teramat damai hingga tak ditemui kesengsaraan dan kesedihan. Aku rela menjadi yang terbuang kesini agar menemui hening yang selama ini aku cari", haturku. Orang tua itu kemudian keluar dari goa. Mungkin ia mengambil kayu dan ranting untuk menambah perapian. Kemudian ia datang membawa batu hitam. "Apakah ini hajar aswad?", tanyaku. Orang tua itu tidak menjawab. Dia sibuk menatap batu itu. Tak lama, batu itu bercahaya. Tak begitu terang, redup yang menenangkan.
"Kau tau, dunia ini terlalu menyilaukan. Sehingga mereka tak mampu melihat diri mereka sendiri di cermin batin. Mereka disibukan oleh pesta pora tiada akhir. Sementara langkah mereka tak jauh dari jurang nan dalam", sabda orang tua. Aku mengerti, dan mulai mendengarkan kidung semesta yang semu karena kebisingan merajalela. Kita memerlukan sepi sendiri, untuk mendengar suara diri, suara hati, suara Tuhan.
Komentar
Posting Komentar