Air Kehidupan
Air yang jernih, membawa kehidupan bagi semesta. Membawa hawa sejuk yang tenangkan pikiran. Air merupakan kebutuhan dasar manusia. Sudah menjadi anggapan umum di mana kita menemukan air, maka di sana ada harapan akan kehidupan.
Segala sesuatu di dunia, termasuk tumbuhan, hewan, manusia, dan lain-lain, semua membutuhkan air. Makhluk hidup tak dapat bertahan tanpa air. Apakah kalian ingat sebuah kisah yang pernah saya ceritakan? Ada sepasang burung. Demi membantu burung betina bertelur, sepasang burung ini segera mempersiapkan sebuah sarang.
Saat membangun sarang. mereka berpikir bahwa telur perlu dierami beberapa lama. Karenanya, mereka membangun satu sarang lagi sebagai tempat menyimpan makanan. Namun, berselang beberapa waktu, buah-buahan di sarang tersebut terjemur cahaya matahari dan menjadi kering. Saat burung jantan melihat sarang yang tadinya penuh buah ini kini isinya menjadi berkurang, ia mengira burung betina yang mencurinya. Ia pun sangat marah dan mulai mematuki burung betina. Burung betina tak tahan lagi dan akhirnya mati.
Tak lama, hujan pun turun dan buah-buahan dalam sarang itu kembali mengembang. Ketika sang burung jantan melihatnya, ia sadar bahwa ternyata air dalam buah-buahan itu menguap. Kini setelah hujan turun, buah-buah tersebut kembali mengembang. Penyesalannya pun datang terlambat.
Apakah manusia juga akan mengalami hal yang sama dengan buah-buah tersebut? Ketika matahari terus menyinari, kadar air akan berkurang karena penguapan. Akankah bumi kita menjadi seperti buah-buahan pada cerita tadi? Manusia terus mengeksploitasi sumber air dan tak henti-hentinya menebang pohon. Tanah pun terus dirusak. Meski hujan turun, air pun tak dapat lagi meresap ke dalam tanah. Dulu hutan-hutan masih lebat dan dapat membantu penyerapan air secara perlahan-lahan.
Selain itu, akar pohon dapat melindungi tanah. Akar tanaman membantu penyerapan air yang perlahan membentuk persediaan air tanah. Namun, pohon-pohon kini telah ditebang dan akar-akarnya telah dicabut. Karenanya, tanah menjadi longgar. Ketika hujan turun, tanah longsor pun terjadi.

Mungkin benar kata mereka, air turun membawa wahyu. Hujan yang sedang mereka caci, bisikan kata-kata penuh inspirasi. Disamping aromanya yang membuat orgasme sebagian orang, juga ada sejumput kasih langit pada bumi. Menjadikan kerinduan dikala enggan turun. Yakni tat kala merindukan hujan di tengah paceklik panjang. Sebagai penutup, ijinkan saya mengingatkan terkait pitutur luhur yang berbunyi:
"Dikena iwake aja buthek banyune"
Yang artinya:
Tangkap ikannya jangan sampai keruh airnya. Kalau air bening menggambarkan ketenteraman masyarakat, kemudian ada penjahat masuk ke lingkungan masyarakat tersebut, maka aparat akan melakukan tindakan yang seperti peribahasa ini. Penjahat tertangkap tanpa membuat masyarakat panik. Menangkap tikus tidak perlu membakar rumah.
Komentar
Posting Komentar