Buku Ini Aku Terima
Di sisa kelam, terdapat bayang bertanya mengetuk rumah sadar. "Apakah kamu masih ada disitu? Lama kita tak bersua". Beruntung kala itu sepi tak menghampiri dalam benak. Maka jadilah samar bisik terdengar. Namun, bayang itu terus menunggu di depan pintu rumah. Kubaca dari celah jendela. Siapakah bayang tersebut.
Pandangku samar. Aku merasa tak mengenalnya atau daya ingatku yang lemah. Aku membuka pintu kemudian bertanya, "apakah saya mengenal, kisana?". Tanyaku hanya dibalas dengan wajah pucat. Ia berikan sebuah buku usang yang sisakan debu, kemudian ia berlalu begitu saja. Kunyalakan lampu di meja biasa ku gunakan untuk membaca kisah-kisah. Entah kisah tentang perang atau damai di sebuah peradaban. Tapi percayalah, selalu ada konflik di setiap cerita. Setelah lampu meja baca ku nyalakan, ku mulai duduk di kursi dan mulai membuka halaman depan. Sebuah kisah berjudul "salam". Rangkaian aksara ini sepertinya tak asing buatku. "Hi, apakah engkau masih mengenalku? Aku yang gemilang diantara bintang-bintang? Aku yang menggandeng jiwa yang resah? Ya, akulah dirimu", sebut kata pembuka dalam buku tersebut. Seketika aku mengendarai waktu. Ini seperti tulisan yang ku tulis ketika aku belum menyerah pada getir nestapa. Sebelum umur menjadi alasanku untuk berhenti menyelami riuh redam derita dunia.
Aku dahulu yang paling keras teriak di mimbar-mimbar. Aku dahulu yang paling membara diantara bara-bara. Aku dahulu yang paling tajam menusuk tembok-tembok kemiskinan. Kini, aku hanyalah sampah di ujung ruang yang tak mau berbicara tentang keadilan. Kebenaran dunia bagiku hanyalah hal yang nisbi. Entah perkara agama bahkan Tuhan. Secercah yang ku tahu hanyalah, Tuhan Maha Baik. Ia mungkin tak melulu disibukan dengan meminum air surga dan memakan makanan surga atau bermain dengan bidadari di surga. Ia juga memikirkan sebutir debu yang hinggap di sela-sela buku. Ia juga mengurus sebutir embun yang ada di sehelai daun. Aku hanya mempercayai hal tersebut. Setidaknya, aku berTuhan dengan alasan. Bukan serta merta karena garis keturunan atau paksaan keadaan.
Aku tutup kembali buku tersebut. Ku bersihkan sisa debu yang masih menyelimuti kemudian ku tata rapi di rak buku yang nampak reot untuk menyangga berbagai kisah yang ku terima.
Pada etalase waktu, aku mencari makna akan waktu itu sendiri. Mencari aksara yang tepat untuk menjelaskan pada seseorang yang pernah menanyakannya. Nyatanya, aku terlalu bodoh untuk mengerti hakikat waktu itu sendiri. Apakah itu linier, siklus atau bahkan bebas. Mungkin ku perlu melakukan perjalanan lagi. Menapaki sisa puing peradaban yang pernah jaya. Kerinduan akan hidup damai, meski Buddha mengatakan hidup adalah derita. Apakah harus ku nikmati setiap lara yang memelukku dengan mesra? Yang menyeduhkan secangkir teh hangat di pagi yang mendung? Yang menciumku ketika aku akan terlelap dalam kenyataan? Ah, jika renjana kini serupa lara yang terus menghujam. Sekiranya cahaya itu ialah rembulan lautan lepas. Yang hanya berbicara pada mereka yang mau mengerti. Tanpa paksaan, tanpa menjajah, tanpa memperkosa.
Aku mulai mengemasi barang-barang di rumah sadar. Mungkin ini bukanlah rumah sadar sesungguhnya. Ini hanyalah dangau persinggahan yang menghanyutkan pada aliran darahnya. Maka, kutinggalkan tempat itu dan terus berjalan menuju cahaya sejati. Menuju murninya murni. Ku lepaskan biduk dari pelabuhan dan kembali mencari memulai mengembara mencari pelabuhan baru. Mengikuti rembulan yang berlayar mendahuluiku. Hingga kutemukan bahagia dalam damai tenang sentosa. Sebelumnya, telah ku ajak jiwa-jiwa yang terabaikan untuk ikut berlarung. Meniti sebuah jalan panjang menemukan tenang yang bersemayam dalam pangkuan ibu.
Lantas, ku letakan buku-buku metode dan mulai membaca serta merumuskan sendiri samar kenyataan bernama kehidupan. Membaca hidup dengan hati. Memberi makna dalam kehidupan yang fana.

Komentar
Posting Komentar