Gadis yang Malang
Hujan datang kembali meski ia dicaci berkali-kali. Bagai cinta buta bagi mereka pemabuk asmara. Meski telah tahu bahwa yang ia cintai telah bersama orang lain, ia tetap bersikukuh dengan cintannya dengan orang itu. Ya, boleh dibilih kepala batu. Seperti perdebatan yang ditampilkan di mimbar-mimbar. Tak mendengar perkataan orang lain. Pokoknya ini ya ini, suka tidak suka, mau tidak mau. Terkesan memaksa. Seperti hujan kali ini, yang dicaci segolongan orang yang menyatakan bahwa hujan adalah malapetaka. Padahal di jaman dahulu, hujan ialah pertanda rejeki. Setiap tetesnya ialah malaikat yang turun dari langit. Membasahi tanah, menumbuhkan benih, memberi kehidupan bagi bumi seisinya. Bagimana nasib dunia tanpa air? Kacau.
Sementara aku bersembunyi di kamar gelap. Bertemankan suara guntur dan kilatan petir dari luar. Jiwaku melayang menari dibawah derasnya hujan. Sembari menangis melarung kesedihan. Tiba-tiba teringat bayang yang berjalan sepayung denganku. Menghindari derasnya air yang jatuh. Takut akan basah. Mungkin bayang itu sedang melamun entah tentang apa. Diamnya selalu penuh rahasia. Beberapa hari aku enggan berkomunikasi dengannya. Hingga tadi siang aku bertemu dengannya kemudian ia datang mengambil kue yang temanku yang sedang merayakan naik jenjang. Kemudian berlalu tanpa kata, atau sapa. Tapi ia tak sanggup menahan kegundahan hatinya tat kala berjumpa. Perempuan yang malang. Aku merasa bersalah tat kala memulai pendekatan dengannya. Aku telah menodainya dengan kegelapanku. Aslinya, ia hanyalah kertas kosong yang belum banyak mengerti. Tapi, seringkali aku buat bingung dengan perkataan omong kosong tentang falsafah. Oh, kasihan gadis itu. Semoga ia menemukan kebahagiaannya, jika itu bukan aku itu mungkin lebih baik. Hujan dan guntur masih mendendangkan lagu semesta. Aku tak menangkapnya sebagai murka. Malah salam sapa dari penghuni langit yang merindukan penduduk bumi. Jika cahaya ada disana, izinkan aku tidur dan terlelap sebentar kali ini. Kan ku biarkan jiwa ini melayang jauh ke atas awan.

Lyndia is how I’m called but down the road . call
BalasHapusme anything such as. She is currently a hotel receptionist.
His wife and him live in Idaho. Playing badminton is what
his family and him observe. http://me176.com/comment/html/?67129.html
Puisi yang indah ya wkwk sukses terus daffa, chia you 😂 semoga sehat selalu aamiin
BalasHapus