Napas Daun

Warung masih ramai meski waktu telah larut. Nampak tawa bersambut petikan gitar dari dalam. Disini kami menyeduh rasa dengan sua dan prahara. Berawal dari keprihatinan, keresahan dan bertemu pada muara asa yang masih ada.

Sejujurnya, kantuk nampak telah hinggap pada dua mata yang menatap sayu. Berat bergelantung di kaki penglihatan. Aku datang dengan ke-entah-an dan pulang dengan lega. Meski entah masih bertengger pada ruang rasa, setidaknya masih bisa membawa pulang puas berkat cumbu bibirmu yang mengecup bibir keringku. Atau, setidaknya aku dapat merawat sadar berbekal harapan yang masih terbangun.

Aku orang yang tak nyaman dengan ramai dan takut akan sepi. Meski kesepian telah menjadi konsumsi sehari-hari. Ah, mungkin kopi kita masih kurang karena hadirnya tak hadir malam ini. Ya, bukan selir atau permaisuriku. Tapi, cahaya yang selama ini menjadi harapanku bernapas. Di dunia yang semakin sesak, aku luapkan segala resah pada aksara. Meski dia tak akan mengerti akan aksara yang kutulis. Meski dia tak akan merasakan rasa yang sama.
Karena cinta sejatinya tak menuntut balas. Maka teruslah mencinta, namun jangan membutakanmu akan cinta yang lebih besar.
Komentar
Posting Komentar