Penjajahan Gaya Baru di Hutan Kampus
Di lantai 2 kampus juang ada kisah dari biru langit kota Malang yang kemarin merayakan hari ulang tahunnya. Kota berkembang katanya, tapi masih banyak cerita tentang gundah masyarakat dan banyak ditemui penjajahan model baru. Kau tahu, di hutan kampusku terdengar samar monopoli bermodel tanam paksa yang mencekik masyarakat. Juga privatisasi air yang tak adil. Aku mendengarnya dikala malam telah hadirkan gelap dan dingin. Aku mendengar cerita, dikala tengah malam, mereka yang resah baru berani mengungkapkan keresahannya. Dalih keamanan. Melihat banyak mata-mata penjajah yang menjaga agar keresahan ini tak terdengar masyarakat luar. Takutnya, banyak yang peduli dan akan merugikan institusi terkait. Ya, kampusku.
Hutan itu hibah dari pemerintah kepada kampus. Pemerintah menghibahkannya sebagai hutan pendidikan. Maka, sesuai perjanjian, hasil panen bukan sebagai komoditas pasar. Tapi nyatanya, omong kosong. Aku menuntut ilmu di kampus yang keji. Kampus penjajah. Universitas biadab.
Regulasi 30% hasil panen diberikan ke kampus dengan cuma-cuma. Semacam upeti di jaman kolonial. Dan sisanya, wajib dijual ke kampus dengan harga murah. Menyedihkan. Padahal tiada bantuan pupuk dan benih yang diberikan kampusku. Sedih. Sementara para aktivis buta dengan kejadian seperti ini. Mereka sibuk mansturbasi intelektual di kampus. Tapi bukan sepenuhnya salah mereka. Kurikulum pendidikan kini dijauhkan dari realita kehidupan.
Aku sadar, aku bukanlah orang yang berpengaruh. Apalagi yanh memiliki wewenang. Aku hanyalah mahasiswa biasa yang prihatin dengan kejadian yang terjadi dikampusku. Berlatar kepedulian terhadap mereka yang menanam, yang arif dan memiliki etos kerja tinggi serta bidang keilmuan yang dekat dengan mereka, aku hanya menjaga kesadaran dan menyebar informasi ini ke mereka yang memiliki rasa. Rasa kemanusiaan yang ingin melihat mereka yang hidup dari hasil panen tersenyum dan hidup layak. Semoga dengan tulisan ini semangat baik dapat tersebar.

Komentar
Posting Komentar