Lika-Liku Luka


Siapa yang tak pernah terluka? Mulai sayatan hingga sesak karena perpisahan. Sekiranya semua orang pernah terluka, entah raga atau rasa bahkan jiwa. Manusia banyak melalui lika-liku luka tapi hanya sedikit dari mereka yang memahami luka itu sendiri.

"Luka adalah sejarah yang ditulis oleh tinta darah", ada yang mengatakan seperti itu. Setiap tetes darah keluar menimbulkan berbagai rasa sakit yang menguras energi. Luka sama halnya penyebab banyak orang berhati-hati untuk menghindari rasa sakit seperti yang sudah terlalui. Namun, apakah semua luka selalu dihindari?

Menahami luka sebagai derita pun nampaknya suatu hal yang terburu-buru. Jika dapat menghitung jumlah luka, berapa jumlah luka yang telah dilalui hingga engkau membaca tulisan ini? Mulai dari sini aku memulai berbicara denganmu, pembaca.

Taukah kamu, beberapa tahun lalu ada yang rela membakar diri di depan istana negara? Tepatnya hari Rabu, 7 Desember 2011 seorang pemuda bernama Sondang Hutagalung dengan sadar membakar diri di depan istana negara. Apakah dia menghindari sebuah luka? 

Pada hari buruh tahun 2015, tepatnya di stadion kebanggan Indonesia, Gelora Bung Karno, seorang buruh bernama Sebastian Manuputi membakar dirinya dan menjatuhkan dirinya dari atap GBK. Sebelum kematiannya, ia sempat mengunggah status di Facebook yang berbunyi "Semampu ku kan berbuat apapun agar anda, kita dan mereka bisa terbuka matanya, telinganya dan hatinya untuk KEADILAN SOSIAL BAGI SELURUH RAKYAT INDONESIA". Apakah ini juga merupakan menghindari luka?

Luka yang tampak oleh mata akan menghadirkan perih yang tak terasa, dan hanya waktu yang bisa menguraikan perihnya. Sayatan pada kulit badan akan membekas menjadi prasasti pengingat peristiwa, meskiupun perlahan akan memudar dan oleh kuasa waktu akan tinggal menjadi bekas penanda. Dari luarnya saja orang akan bisa memperkirakan nyeri dan perihnya, dan ekspresi kesakitan dari yang terluka akan menambah dramatisasi dari empati yang terbangun. Luka yang disengaja tidak akan datang bersama efek kejut yang yang tidak diharapkan. Sudah diantisipasi sedemikian rupa sehingga ketika luka disengaja tercipta, sakitnya  sudah mendahului ke otak untuk berjaga jaga.

Luka yang tak kasat mata lebih mengerikan. Ia menghantam tepat ke poros kehidupan dan jika tidak pandai mengelolanya akan menyebabkan keruntuhan nilai nilai ideal dalam kehidupan bahkan mempengaruhi kewarasan. Jiwa yang terluka, hati yang terkoyak dan perasaan yang tersinggung akan meninggalkan luka yang akan tetap menaganga dalam batin. Luka ini biasanya disebabkan oleh laku durjana dari orang yang kita percaya yang menyebabkan kekecewaan yang teramat parah. Luka ini tidak berdarah, tetapi perihnya ratusan kali lipat dari sekedar luka kulit yang tergores benda tajam.

Dengan demikian apakah Sondang dan Sebastian menghindari luka? Menurut penulis sendiri mereka menghindari luka yang lebih menyakitkan. Sondang merupakan Mahasiswa Universitas Bung Karno kala itu. Ia aktif dalam upaya advokasi kasus-kasus pelanggaran hak asasi manusia. Sebelum kematiannya, ia menitipkan sebuah pesan yang ia tulis pada bagian akhir buku kekasihnya. Isi tulisan Sondang seperti ini, "Terkutuklah buat ketidakadilan, terkutuklah buat ketidakpedulian, terkutuklah buat kemiskinan, terkutuklah buat rasa sakit dan sedih, terkutuklah buat para penguasa jahat, terkutuklah buat para penjahat, setelah aku tidak punya rasa lagi."

Bukankah sudah cukup jelas mereka bunuh diri karena keputus- asaan melihat keadilan di negeri ini? Mereka totalitas dalam terluka.  

Lantas bagaimana lukamu saat ini?

Sebagian kawan rela terluka atas orang-orang tersayang mereka. Ada kawan yang rela kerja pagi hingga petang untuk sesuap nasi anaknya, ada yang rela membohongi dirinya untuk kebahagiaan menurut orang tuanya dan ada yang rela terluka berkali-kali agar engkau tidak bersedih. 

Luka tak selamanya buruk jika ia temukan obat untuk menyembuhkannya. Seperti raga yang butuh waktu untuk memulihkannya, jiwa juga perlu waktu dan metode untuk mengobatinya. Luka fisik dapat disembuhkan dengan obat merah dan mengkonsumsi makanan yang kaya vitamin K dan protein. Sementara rasa dan jiwa memerlukan cara tersendiri. Masing-masing orang memiliki cara untuk menyembuhkannya namun, ada juga yang tidak. Bagi yang tidak menemukan, ia akan menemukan lubang hitam seperti depresi hingga gangguan mental. Bagi yang menemukan obatnya, ia telah menemukan cinta. Berbahagialah mereka yang menemukan cinta.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Parade Kematian 2021

Duel Pecel Tumpang vs Pecel Lele! Fafifest Gemparkan Permusikan Kediri

Merchant PERTANIAN HARI INI sudah bisa dipesan! Take it All only 200k!!