Postingan

Bisikan Lembah

Gambar
Jika cinta memang perihal menciptakan dan mempelihara lara, maka biarlah aku menjadi jerit atau raung yang mengiringi kesedihanmu. Meski manusia secara fundamental mencari kebahagiaan dan menjauhi lara, sebagian mereka memilih tersiksa dalam keadaan yang menjadikannya hidup. Membingungkan? Baiklah, akan aku sodorkan padamu sebuah kopi di sebuah lereng gung sembari menikmati turunnya kabut. Apakah kau merasakan dinginnya atau hangatnya? Hidup memperlukan fokus. Meski kenyataan sering kali mendorong manusia pada jurang nan samar. Pada bilik tua yang kujadikan dangau persinggahan, aku berpesan pada setiap kebebasan yang syarat akan tapal batas. Pada sebuah sangkar yang kutemui jerujinya. Sebuah tembok megah berdiri di kaki langit, menyisir hutan yang kian samar tertutup kabut. Kebebasan sama halnya omong kosong. Semakin kau berharap bebas maka saat itu juga kau menemui kekecewaan. Sama halnya dengan kemerdekaan yang saat ini kita enyam. Saat ini, diatas mimbar para elit berkata, "kam...

Merayakan Sepi

Gambar
Pesan ruang yang berawal tiada. Menjadi sebuah jelaga di udara yang memenuhinya. Perdebatan tentang ada dan tiada masih menyeruak di dalam pikiran. Bahkan, menjadi sebuah cerita tak berujung di meja kita. Sementara warung semakin ramai. Kita membisu di tengahnya, temangu menikmati alunan lagu yang harmoni. Menusuk kesadaran, mempengaruhi benak otak. Mendayu-dayu. Seketika keresahan menari-nari di panggungnya. Lentik jari tangannya mengikuti alunan dari petikan gitar. Kopiku semakin dingin. Dikarenakan udara dingin di warung pinggir sawah. Pada angin, kuberpesan tentang telaga di belakang rumah. Tempatku mandi, membersihkan segala hadas di dalam jiwa. Membasahi kekalutan pikiran. Menyegarkan. Kita bertemu pada sepi karena ramai tak temui arti. Begitu sabda angin kepada hujan, atau kayu kepada api. Kata orang tua dari jogja yang mencari nafkah dari kata.

Di Sudut Sepi Ruang Imaji

Gambar
Pada sudut kota Malang yang ramai. Bersamaan hadirnya sepi di malam hari. Ada yang masih menyimpan dendam. Sebelum terbitnya matahari, ijinkan aku menghaturkan syukur pada nikmat Tuhan yang tiada kira. Aku masihlah seperti dahulu. Seorang pemuda yang menyusuri lorong gelap. Mencari lentera sebagai penerang. Menari kemudian lenyap ditelan zaman. Bukankah kita ini manusia? Makhluk lemah namun merasa digdaya. Pelupa dan sering kali jauh dari kata pintar. Manusia sejatinya hanya ingin bahagia. Bisa dengan cara membahagiakan orang lain, atau bahagia sendiri. Bulan nampak lengkungan senyumannya. Hari baru membawa cerita baru. Sebagian terjerembab pada rutinitas yang monoton. Sebagian mencari celah agar keluar agar tiada alasan untuk mati sebelum berjuang. Seorang pemuda tergeletak lelah di warung-warung. Mungkin karena tiada lagi tempat bernaung yang dinamakan rumah. Atau, mereka anggap semesta ialah rumah bagi mereka. Sebelum kelam semakin menekam, puisi dilarung di musim sendu yang mendung...

Mati Bahagia

Gambar
Waktu menunjukan jam pulang. Orang-orang mulai ramai memadati jalan. Terlihat polisi mengatur lalu lintas yang kacau. Melihat emosi orang-orang kota yang nampaknya telah muak. Menelan hal yang sama setiap harinya. Rutinitas membosankan yang mendekatkannya pada keputus-asaan. Sementara di desa, petani nampak berangkat ke sawah. Tat kala sore, ditemani burung dan angin semilir. Kadang hujan datang menyapa. Dinginnya tak seberapa, karena sejuknya membasahi jiwa yang renta. Berbicara pada anak-anaknya. Ada yang bernama padi, jagung, tebu dan lain sebagainya. Nelayan nampak mengawasi ombak. Mendengar sabda alam yang memberi kode untuk segera berlayar karena ikan-ikan itu tak sabar untuk ditangkap. Walaupun kenyataannya sering yang ia temui ialah ikan-ikan plastik. Limbah metropolutan. Mentari terbenam, bulan berlayar. Nampak anak-anak bintang bermain di taman langit. Berlomba tuk buktikan siapa yang paling terang. Ibu bulan nampak hanya tersenyum melihat tingkah anak-anaknya. Sementara ayah...

Jikalau

Gambar
jikalau hancur, mari kembali membangun: reruntuhan, pecahan; perang jikalau lelah, mari kembali mengingat: harapan, impian; asa jikalau hilang, mari kembali mencari: nilai, rasa; kita

Menjemput Mentari, Menghabiskan Malam

Gambar
Bulan nampak masih terang. Tergelincir sedikit dari singgasananya. Remang cahaya lampu menyinari orang-orang yang menghabiskan malam dengan bercengkrama. Bersama bertukar informasi, tentang dunia saat ini yang krisis akan manusia yang unik. Taukah engkau? 80% orang mati muda karena termangu pada kemonotonan. Sementara yang minoritas tersisihkan. Di cap berandal atau preman. Padahal dalam hatinya ada sebuah kebaikan. Padahal dalam pikirnya kaya akan ilmu yang luhur. Beberapa saat aku bersua, menyampaikan tentang gelora di mendan tempur yang terus menerus menggempur tirani yang kolot. Sebuah raja yang enggan hengkang dari singgasananya. Lumrah ku rasa. Mungkin karena kursi yang empuk berlapiskan emas itu ia dapatkan dari pergempuran sengit sebelumnya. Tapi, tiada keabadian untuk raga seseorang. Engkau tahu? Manusia nyatanya dapat bercengkrama dengan hewan, tumbuhan bahkan bakteri sekalipun. Tidak percaya? Coba engkau tanam dua mawar di depan rumahmu. Sebagai perlakuan, satu kau siram sem...

Pesan Daun pada Dunia Penuh Prahara

Gambar
Sinar lampu perlahan menjadi temaram Pijar redup memberi tenang Dalam melalui kesunyian Menuju lingkaran dan sekat Menuju sua penuh kata Senyum sapa para sahabat, Yang bercerita tentang pedih dan juang Kopi kembali menjadi teman Tat kala gundah mendorong sunyi Menuju ruang riuh Penuh kata minim makna Setidaknya masih ada hangat Nikmat senggang di kenyataan yang kalut Sementara kucing kita tertidur Dalam pelukan nyaman persaudaraan Kesadaran bahwa manusia dipenuhi angkara Hingga lupa cara untuk bertegur sapa Menjadi kelam dalam gelap Menikam-nikam dengan caci dan kata Menjadi prahara kalut peradaban yang kian bingung Semoga yang tersemogakan dapat terwujud Seperti bagaimana doa terkabul Membawa bahagia bagi dunia yang dipenuhi rintihan