Postingan

Menampilkan postingan dari April, 2019

Harum Haru Taman dari Celah Gerimis

Gambar
Nasib serupa taman bunga. Sejumlah wangi kesunyian menyeruak dan ditengahnya beriak sebuah telaga yang memantulkan rona wajah dengan gurat umur terlukis. Sebelum tertikam kantuk dan melarung mimpi di penghujung hari, seorang berpesan akan cermin yang kian retak. Menjadikan sukma kian samar adanya. Beduyun-duyun menyuapi selaksa peristiwa. Kian kalut mewarnai mimpi anak negeri. Bukan tak peduli. Telinga ini rasanya tak ingin mendengar gelak tawa para peraga dibalik altar. Sementara kesedihan menggerogoti relung hatinya. Ia telusuri jalan dibentangkan keindahan yang menyelinap diantara kini dan nanti. Menerjang badai agonia, menceburkan diri ke telaga sunyi, menari bersama irama musim dan diiringi mewangi kicau burung sebagai garis sajakNya. Rupanya ia menapaki jalan terjal kehidupan yang dalam. Menyelami palung tanpa dasar, mendaki gunung tanpa puncak. Acap kali orang-orang berkata bahwa hidupnya penuh kesia-siaan. Bunga-bunga di kebun belakang mulai melakukan kebiasaan sehari-...

Gubahan di Altar Mimpi

Gambar
Kali ini matahari telah duduk disinggananya. Memberi panas yang dinanti jemuran ibu-ibu, ikan-ikan asin para nelayan dan gabah petani yang belum kering. Tak jarang panasnya menuai cacian para pekerja kantoran dan buruh pabrik yang bekerja ditengah tekanan penguasa. Sejenak berpikir nasib tukang becak yang termangu menanti para pelanggan jasanya. Demi mencari rejeki dan wujudkan sebagian mimpi yang belum terbeli. Harap kini mendung datang berarak dari utara. Memberi angin sejuk ditengah geliat kota. Redakan bara yang kian membara di jalanan. Meredam darah yang mendidih di atas panggangan. Siapa yang mengerti perihal takdir? Seolah orang dulu berkata mereka yang mati muda ialah yang berbahagia. Ucapan putus asa dari juang yang tak temui arah. Sementara hari terus berjalan dan mati tanpa arti hanya menanti lupa. Barangkali tiada guna hidup di dunia tak membuatku kehilangan asa karena kayuh kereta angin masih semangat memutar roda kehidupan. Meski pertemuan dan perpisahan telah digar...

Cinta Tanpa Jarak

Gambar
Sejuk canda bayu mengelus rambut hitammu. Menyelinap menyisakan kelam. Raut wajahmu pancarkan sedih karena ditinggal kekasih. Lelaki macam apa yang tega menelantarkan cintamu hingga retak patah istana yang telah kalian bangun? Apakah kau sudah melontarkan kata kutuk dan umpat benci karena itu? Mungkin perempuan selembut dirimu tak mungkin melakukannya. Kau hanya pasrah ditikam-tikam lara, sembari meminum anggur yang terbuat dari janji-janjinya yang memabukan. Mestinya dirimu tak perlu bersikukuh mempertahankan tembok-tembok yang hampir runtuh itu. Biarkan ia menjadi puing berserakan. Atau mungkin, engkau terlanjur terlalu dalam mencintai hingga tak tahu kemana mesti menyandarkan resahmu. Sementara aku hanya mampu melihat wajah ayumu bermuram sepi ditengah gemerlap pesta pora. Sesekali aku ingin sekali mengusap air matamu yang berlena menyusuri pipi halusmu dan kemudian jatuh membasahi permukaan tanah. Aku takut ketika bumi mendengar isak tangis laramu, ia akan mendekapmu dengan s...

Buku Ini Aku Terima

Gambar
Di sisa kelam, terdapat bayang bertanya mengetuk rumah sadar. "Apakah kamu masih ada disitu? Lama kita tak bersua". Beruntung kala itu sepi tak menghampiri dalam benak. Maka jadilah samar bisik terdengar. Namun, bayang itu terus menunggu di depan pintu rumah. Kubaca dari celah jendela. Siapakah bayang tersebut. Pandangku samar. Aku merasa tak mengenalnya atau daya ingatku yang lemah. Aku membuka pintu kemudian bertanya, "apakah saya mengenal, kisana?". Tanyaku hanya dibalas dengan wajah pucat. Ia berikan sebuah buku usang yang sisakan debu, kemudian ia berlalu begitu saja. Kunyalakan lampu di meja biasa ku gunakan untuk membaca kisah-kisah. Entah kisah tentang perang atau damai di sebuah peradaban. Tapi percayalah, selalu ada konflik di setiap cerita. Setelah lampu meja baca ku nyalakan, ku mulai duduk di kursi dan mulai membuka halaman depan. Sebuah kisah berjudul "salam". Rangkaian aksara ini sepertinya tak asing buatku. "Hi, apakah engkau mas...

Pesan Lelaki yang Tak Menemui Cintanya

Gambar
Permisi, apakah masih ada sedikit ruang untuk sekedar singgah? Saya rasa diluar badai sedang berkecamuk. Ijinkan saya duduk di seberang tempatmu mencari kata. Maafkan saya, semisal dalam detik-detik tertentu saya mencoba mencuri pandang yang sering kali bertatap di sebagian waktu tat kala kekalutanmu terhadap dunia memaksamu untuk berhenti bernapas. Melalui diam, ijinkan saya menyisipkan aksara dalam kehidupanmu. Saya harap anda tidak keberatan dan saya pun tidak menuntut balas jikalau engkau merasa diuntungkan dengan kehadiran saya. Saya tak kuasa menahan diri tat kala engkau menitihkan air mata. Saat bising dan panik menggerogoti kepentingan prioritasmu. Sisakan gundah gulana disetiap sisa waktu yang engkau gunakan untuk meluapkan rasa. Mungkin, saya mengerti jalan keluar dari labirin masalahmu. Namun, maafkan saya jikalau seakan-akan saya menjadi tokoh yang sok tahu. Sejatinya saya hanya ingin meruntuhkan sebuah alasan yang membuatmu tak kuasa titikan lara. Semoga maksud...

Air Kehidupan

Gambar
Air yang jernih, membawa kehidupan bagi semesta. Membawa hawa sejuk yang tenangkan pikiran. Air merupakan kebutuhan dasar manusia. Sudah menjadi anggapan umum di mana kita menemukan air, maka di sana ada harapan akan kehidupan . Segala sesuatu di dunia, termasuk tumbuhan, hewan, manusia, dan lain-lain, semua membutuhkan air. Makhluk hidup tak dapat bertahan tanpa air. Apakah kalian ingat sebuah kisah yang pernah saya ceritakan? Ada sepasang burung. Demi membantu burung betina bertelur, sepasang burung ini segera mempersiapkan sebuah sarang. Saat membangun sarang. mereka berpikir bahwa telur perlu dierami beberapa lama. Karenanya, mereka membangun satu sarang lagi sebagai tempat menyimpan makanan. Namun, berselang beberapa waktu, buah-buahan di sarang tersebut terjemur cahaya matahari dan menjadi kering. Saat burung jantan melihat sarang yang tadinya penuh buah ini kini isinya menjadi berkurang, ia mengira burung betina yang mencurinya. Ia pun sangat marah dan mulai mematuki...

Sepi Datang Tanpa Permisi

Gambar
Sepi datang tanpa permisi Bising terakuisisi Hening beraksi Jiwa terisi Ringkih biduk Samudera amuk Terima benguk Rasa beraduk Purnama berganti Tanpa berarti Dalam hati Menyelam arti Takut mati Mimpi dan harap Rindu mengendap Tak dianggap Sisakan bengap Lukisan kelam Era nan kejam Di bawah tilam Rupa menganyam Bumi berbisik Di tengah berisik Gelisah mengusik Menuntut balik Kidung bertalun Tahun ke tahun Kisah tertenun Pada halimun Mulut bergumam Di ujung malam Wajah asam Di bawah temaram Rinai hujan Basahi perasaan Jernih amatan Temukan pesan Bunga mekar Di tengah belukar Meski sukar Tetap berujar Rupa beraneka Cobaan kehidupan Memendam duka Pancarkan suka Memoar biru Bualan semu Para pecandu Menanti temu Temukan arti Rasa sejati Dharmabakti Menjadi bukti Inilah pungkas Patri batas Tiada aras Hanya asas

Kopi yang Menjadi Dingin dan Memprediksi Pelaku Pembunuhan

Gambar
Bagiku, kopi yang diseduh bukan perkara rasa atau aroma lagi. Ini perkara pengalaman. Karena dalam pengalaman terangkum semuanya. Bagaimana menikmati kopi itu hal yang subjektif dan bersifat kualitatif. Kau tau kopi yang paling enak? Yaitu kopi yang diseduh dengan senyum bahagia penanamnya. Iya, petani. Bukan dengan air mata karena pajak yang mencekiknya. Di waktu yang lain, ada orang payuh baya menjelaskan tentang kopi. Tapi kali ini bukan perkara rasa, aroma atau pengalaman. Ia menjelaskan tentang waktu dimana menunggu kopi yang ia seduh menjadi dingin. Sebuah rumus kemudian menjadi pembahasan melalui simbol serta uraian yang sistematis. Kupikir ia bukanlah orang sembarangan. Mungkin ia pejalan yang dengan khidmat melalui kehidupan. Kopi yang semula panas menjadi dingin itu disebabkan faktor lingkungan. Lambat laun aku mengkorelasikannya sebagai upaya penemuan pelaku pembunuhan. Apakah engkau menangkapnya? Tubuh si korban yang semula panas perlahan menjadi dingin. Suhu tu...

Pohon Uang dan Juang Mereka

Gambar
Teringat akan pagi di pasar, tentang apa yang mereka cari setiap hari. Perkara harta? Atau salah satunya uang? Ya, uang ialah alat tukar yang sah berupa selembar kertas berisi nominal. Mereka bermacam-macam. Ada yang berwarna coklat, merah jambu, biru, hijau dan lain-lain. Meski secara bahan dasar kurang lebih sama, mereka diperlakukan berbeda-beda. Ada yang dilipat hingga lecek di dalam saku, ada yang disimpan rapi dalam dompet. Ada yang keluar masuk kotak amal, ada yang berlalu-lalang di meja judi. Perkara nasib. Siapa yang bisa lari darinya? Nasib baik bagi mereka yang dengan hadirnya membawa kebahagiaan. Namun tak jarang, dengan hadirnya mereka malah memperkeruh keadaan. Apakah engkau pernah bertemu orang-orang yang tidak terlalu mengharapkan hadirnya? Mereka yang telah tahu bahwa kehadiran harta bukan jaminan kedamaian dan ketentraman yang mereka cari. Justru mereka yang memiliki lebih, seringkali dihadapkan dengan berbagai problematika kehidupan. Kemudian, apa bedanya den...

Gadis yang Malang

Gambar
Hujan datang kembali meski ia dicaci berkali-kali. Bagai cinta buta bagi mereka pemabuk asmara. Meski telah tahu bahwa yang ia cintai telah bersama orang lain, ia tetap bersikukuh dengan cintannya dengan orang itu. Ya, boleh dibilih kepala batu. Seperti perdebatan yang ditampilkan di mimbar-mimbar. Tak mendengar perkataan orang lain. Pokoknya ini ya ini, suka tidak suka, mau tidak mau. Terkesan memaksa. Seperti hujan kali ini, yang dicaci segolongan orang yang menyatakan bahwa hujan adalah malapetaka. Padahal di jaman dahulu, hujan ialah pertanda rejeki. Setiap tetesnya ialah malaikat yang turun dari langit. Membasahi tanah, menumbuhkan benih, memberi kehidupan bagi bumi seisinya. Bagimana nasib dunia tanpa air? Kacau. Sementara aku bersembunyi di kamar gelap. Bertemankan suara guntur dan kilatan petir dari luar. Jiwaku melayang menari dibawah derasnya hujan. Sembari menangis melarung kesedihan. Tiba-tiba teringat bayang yang berjalan sepayung denganku. Menghindari derasnya air...

Di Sudut Ruang Diskusi Berujung Debat Berisi Kutukan

Gambar
Di sudut ruang, aku sendiri mendekam sepi. Mendengar perbincangan warung yang berbicara ide dan realita. Berbincang filsafat, tentang ide dan realita. Nampaknya seru untuk bergabung. Dengan logatnya yang khas daerahnya, ia nampak dominan dalam forum tersebut. "Dari ide dan realita ya realita itu sendiri", kemudian ia menyeritakan tentang tokoh televisi yang sedang tenar saat ini. Perkara falsafah ialah perkara omong kosong. Lambat laun, aku mengerti bahwa ia seorang mahasiswa hukum yang sedang mengenyam pendidikan strata satu di kampus islam tak jauh dari sini. Seorang yang lain nampak telah jenuh, karena orang yang berbicara tadi tak mau mendengar pendapat orang lain. Kemudian orang pertama mengatakan bahwa lawan bicaranya mesti belajar tentang jati diri pohon. Katanya pohon banyak dibenci orang, tapi banyak manfaatnya. Sial. Aku mendengar orang yang khas dengan logatnya itu merasa tinggi karena banyak dan cepat membaca buku. Ia berkata, "kamu ini sering ngopi sama...

Realita yang Fiktif

Gambar
Pagi ini nampak mendung sudah mulai sembunyikan cahaya mentari. Hingga menjelang sore, cahaya matahari berusaha menembus celah-celahnya yang kian pekat. Masih di kedai kopi yang sama dengan semalam, suara lagu mendayu dari dalam warung, bertemankan kopi dan kupu-kupu yang menari diantara tanaman. Menghiasi lorong samping warung kopi yang sedianya kosong. Tepat dibelakangku, dua orang timur sedang bersenda gurau tentang aksi massa. Tentang kapitalis yang mencekik yang kemudian dihajar oleh mereka yang resah. Tapi, guyonan tentang bangkitnya kapitalis baru dan koruptor keparat baru yang lahir dari rahim aksi massa tersebut menjadikan kekalutan kian meradang. Aku melihatnya, mereka yang dahulu berteriak dijalan-jalan, berorasi tentang kesejahteraan dan omong kosong keadilan, kini menduduki kursi-kursi parlemen. Sebut saja si Fulan. Yang dahulu berdiri menantang orba, dengan jiwa mudanya yang membara. Masuk keluar ruang pengadilan. Membawa fatwa hukum yang akhirnya meruntuhkan domi...

Dingin Kota dan Kegundahan

Gambar
Seperti malam biasanya, udara dingin dan angin sejuk kota Malang menyelimuti warung kopi. Dimana banyak orang berbincang dan sebagian menunduk menatap layar. Ada yang membicarakan filsafat, menyombongkan diri membaca madilog berkali-kali dengan logat daerah yang kental. Ada pula yang berbicara budaya nepotisme yang ia banggakan di organisasinya, organisasi tua yang terstruktur, namun nepotisme buta menjadikannya runtuh. Bukan runtuh organisasinya, bukan bubar. Tapi, runtuh nilai perjuangannya. Padahal tetua mereka membangun dengan peluh dan modal pikiran yang bagus. Di sudut sepi, aku sendiri menghisap oksigen yang menjadikanku sedikit segar. Beberapa hari ini kekalutan semakin kalut saja rasanya mencabik-cabik jiwaku. Keruh permasalahan dan tuntutan atas dunia esok yang mungkin semakin semrawut. Aku pesimis ketika anak-anak muda dicekoki pemahaman dangkal atas nilai kearifan leluhur. Solidaritas yang dibangun karena derita yang disetting seniornya, bukan solidaritas yang patut d...

Penjajahan Gaya Baru di Hutan Kampus

Gambar
Di lantai 2 kampus juang ada kisah dari biru langit kota Malang yang kemarin merayakan hari ulang tahunnya. Kota berkembang katanya, tapi masih banyak cerita tentang gundah masyarakat dan banyak ditemui penjajahan model baru. Kau tahu, di hutan kampusku terdengar samar monopoli bermodel tanam paksa yang mencekik masyarakat. Juga privatisasi air yang tak adil. Aku mendengarnya dikala malam telah hadirkan gelap dan dingin. Aku mendengar cerita, dikala tengah malam, mereka yang resah baru berani mengungkapkan keresahannya. Dalih keamanan. Melihat banyak mata-mata penjajah yang menjaga agar keresahan ini tak terdengar masyarakat luar. Takutnya, banyak yang peduli dan akan merugikan institusi terkait. Ya, kampusku. Hutan itu hibah dari pemerintah kepada kampus. Pemerintah menghibahkannya sebagai hutan pendidikan. Maka, sesuai perjanjian, hasil panen bukan sebagai komoditas pasar. Tapi nyatanya, omong kosong. Aku menuntut ilmu di kampus yang keji. Kampus penjajah. Universitas biadab. ...

Napas Daun

Gambar
Warung masih ramai meski waktu telah larut. Nampak tawa bersambut petikan gitar dari dalam. Disini kami menyeduh rasa dengan sua dan prahara. Berawal dari keprihatinan, keresahan dan bertemu pada muara asa yang masih ada. Sejujurnya, kantuk nampak telah hinggap pada dua mata yang menatap sayu. Berat bergelantung di kaki penglihatan. Aku datang dengan ke-entah-an dan pulang dengan lega. Meski entah masih bertengger pada ruang rasa, setidaknya masih bisa membawa pulang puas berkat cumbu bibirmu yang mengecup bibir keringku. Atau, setidaknya aku dapat merawat sadar berbekal harapan yang masih terbangun. Aku orang yang tak nyaman dengan ramai dan takut akan sepi. Meski kesepian telah menjadi konsumsi sehari-hari. Ah, mungkin kopi kita masih kurang karena hadirnya tak hadir malam ini. Ya, bukan selir atau permaisuriku. Tapi, cahaya yang selama ini menjadi harapanku bernapas. Di dunia yang semakin sesak, aku luapkan segala resah pada aksara. Meski dia tak akan mengerti akan aksara yang kutul...