Postingan

Menampilkan postingan dari Maret, 2019

Bisikan Lembah

Gambar
Jika cinta memang perihal menciptakan dan mempelihara lara, maka biarlah aku menjadi jerit atau raung yang mengiringi kesedihanmu. Meski manusia secara fundamental mencari kebahagiaan dan menjauhi lara, sebagian mereka memilih tersiksa dalam keadaan yang menjadikannya hidup. Membingungkan? Baiklah, akan aku sodorkan padamu sebuah kopi di sebuah lereng gung sembari menikmati turunnya kabut. Apakah kau merasakan dinginnya atau hangatnya? Hidup memperlukan fokus. Meski kenyataan sering kali mendorong manusia pada jurang nan samar. Pada bilik tua yang kujadikan dangau persinggahan, aku berpesan pada setiap kebebasan yang syarat akan tapal batas. Pada sebuah sangkar yang kutemui jerujinya. Sebuah tembok megah berdiri di kaki langit, menyisir hutan yang kian samar tertutup kabut. Kebebasan sama halnya omong kosong. Semakin kau berharap bebas maka saat itu juga kau menemui kekecewaan. Sama halnya dengan kemerdekaan yang saat ini kita enyam. Saat ini, diatas mimbar para elit berkata, "kam...

Merayakan Sepi

Gambar
Pesan ruang yang berawal tiada. Menjadi sebuah jelaga di udara yang memenuhinya. Perdebatan tentang ada dan tiada masih menyeruak di dalam pikiran. Bahkan, menjadi sebuah cerita tak berujung di meja kita. Sementara warung semakin ramai. Kita membisu di tengahnya, temangu menikmati alunan lagu yang harmoni. Menusuk kesadaran, mempengaruhi benak otak. Mendayu-dayu. Seketika keresahan menari-nari di panggungnya. Lentik jari tangannya mengikuti alunan dari petikan gitar. Kopiku semakin dingin. Dikarenakan udara dingin di warung pinggir sawah. Pada angin, kuberpesan tentang telaga di belakang rumah. Tempatku mandi, membersihkan segala hadas di dalam jiwa. Membasahi kekalutan pikiran. Menyegarkan. Kita bertemu pada sepi karena ramai tak temui arti. Begitu sabda angin kepada hujan, atau kayu kepada api. Kata orang tua dari jogja yang mencari nafkah dari kata.

Di Sudut Sepi Ruang Imaji

Gambar
Pada sudut kota Malang yang ramai. Bersamaan hadirnya sepi di malam hari. Ada yang masih menyimpan dendam. Sebelum terbitnya matahari, ijinkan aku menghaturkan syukur pada nikmat Tuhan yang tiada kira. Aku masihlah seperti dahulu. Seorang pemuda yang menyusuri lorong gelap. Mencari lentera sebagai penerang. Menari kemudian lenyap ditelan zaman. Bukankah kita ini manusia? Makhluk lemah namun merasa digdaya. Pelupa dan sering kali jauh dari kata pintar. Manusia sejatinya hanya ingin bahagia. Bisa dengan cara membahagiakan orang lain, atau bahagia sendiri. Bulan nampak lengkungan senyumannya. Hari baru membawa cerita baru. Sebagian terjerembab pada rutinitas yang monoton. Sebagian mencari celah agar keluar agar tiada alasan untuk mati sebelum berjuang. Seorang pemuda tergeletak lelah di warung-warung. Mungkin karena tiada lagi tempat bernaung yang dinamakan rumah. Atau, mereka anggap semesta ialah rumah bagi mereka. Sebelum kelam semakin menekam, puisi dilarung di musim sendu yang mendung...

Mati Bahagia

Gambar
Waktu menunjukan jam pulang. Orang-orang mulai ramai memadati jalan. Terlihat polisi mengatur lalu lintas yang kacau. Melihat emosi orang-orang kota yang nampaknya telah muak. Menelan hal yang sama setiap harinya. Rutinitas membosankan yang mendekatkannya pada keputus-asaan. Sementara di desa, petani nampak berangkat ke sawah. Tat kala sore, ditemani burung dan angin semilir. Kadang hujan datang menyapa. Dinginnya tak seberapa, karena sejuknya membasahi jiwa yang renta. Berbicara pada anak-anaknya. Ada yang bernama padi, jagung, tebu dan lain sebagainya. Nelayan nampak mengawasi ombak. Mendengar sabda alam yang memberi kode untuk segera berlayar karena ikan-ikan itu tak sabar untuk ditangkap. Walaupun kenyataannya sering yang ia temui ialah ikan-ikan plastik. Limbah metropolutan. Mentari terbenam, bulan berlayar. Nampak anak-anak bintang bermain di taman langit. Berlomba tuk buktikan siapa yang paling terang. Ibu bulan nampak hanya tersenyum melihat tingkah anak-anaknya. Sementara ayah...

Jikalau

Gambar
jikalau hancur, mari kembali membangun: reruntuhan, pecahan; perang jikalau lelah, mari kembali mengingat: harapan, impian; asa jikalau hilang, mari kembali mencari: nilai, rasa; kita

Menjemput Mentari, Menghabiskan Malam

Gambar
Bulan nampak masih terang. Tergelincir sedikit dari singgasananya. Remang cahaya lampu menyinari orang-orang yang menghabiskan malam dengan bercengkrama. Bersama bertukar informasi, tentang dunia saat ini yang krisis akan manusia yang unik. Taukah engkau? 80% orang mati muda karena termangu pada kemonotonan. Sementara yang minoritas tersisihkan. Di cap berandal atau preman. Padahal dalam hatinya ada sebuah kebaikan. Padahal dalam pikirnya kaya akan ilmu yang luhur. Beberapa saat aku bersua, menyampaikan tentang gelora di mendan tempur yang terus menerus menggempur tirani yang kolot. Sebuah raja yang enggan hengkang dari singgasananya. Lumrah ku rasa. Mungkin karena kursi yang empuk berlapiskan emas itu ia dapatkan dari pergempuran sengit sebelumnya. Tapi, tiada keabadian untuk raga seseorang. Engkau tahu? Manusia nyatanya dapat bercengkrama dengan hewan, tumbuhan bahkan bakteri sekalipun. Tidak percaya? Coba engkau tanam dua mawar di depan rumahmu. Sebagai perlakuan, satu kau siram sem...

Pesan Daun pada Dunia Penuh Prahara

Gambar
Sinar lampu perlahan menjadi temaram Pijar redup memberi tenang Dalam melalui kesunyian Menuju lingkaran dan sekat Menuju sua penuh kata Senyum sapa para sahabat, Yang bercerita tentang pedih dan juang Kopi kembali menjadi teman Tat kala gundah mendorong sunyi Menuju ruang riuh Penuh kata minim makna Setidaknya masih ada hangat Nikmat senggang di kenyataan yang kalut Sementara kucing kita tertidur Dalam pelukan nyaman persaudaraan Kesadaran bahwa manusia dipenuhi angkara Hingga lupa cara untuk bertegur sapa Menjadi kelam dalam gelap Menikam-nikam dengan caci dan kata Menjadi prahara kalut peradaban yang kian bingung Semoga yang tersemogakan dapat terwujud Seperti bagaimana doa terkabul Membawa bahagia bagi dunia yang dipenuhi rintihan

Hujan dan Kita, Manusia?

Gambar
Hujan kembali turun, kekasih. Ia kembali datang meski orang berkali-kali memaki. Tak mempedulikan kata mereka. Ia terus turun memberi basah pada tanah. Jika tanah tak dapat lagi menyerap airnya, ia akan mengalir ke sungai, kemudian permukaan sungai semakin tinggi. Ikan-ikan semakin senang menari di dalam sungai. Sementara kodok bernyanyi bersautan menyanyikan kidungnya, yang bicara tentang kearifan di tengah nestapa. Ketika keseimbangan tak lagi terjaga, berkah ini akan menjadi bencana. Sungai akan semakin dangkal karena erosi di hulu. Ikan tak lagi berenang karena kualitas air yang buruk. Kemudian, akibat ulah manusia yang terus menerus menghabiskan hutan yang menjadikan longsor di lereng gunung dan banjir di daerah hilir. Na'asnya, mereka menyebut Tuhan dalam doa mereka. Sembari terus merintih dalam derita yang dikarenakan diri mereka disini. Seumpama Tuhan sedikit cuek dan sensitif seperti perempuan yang sedang PMS, mungkin ia berkata, "Salah siapa coba? Biarin....

Sacangkir Kopi di Pagi Hari

Gambar
Sepagi ini, sadarku membawaku ke kedai dimana biasa aku bersua dengan teman-teman. Jam 6 lebih 6 menit. Nampak, penjual mengantuk karena kedai buka 24 jam dan waktu belum menunjukan jam giliran. Suara musik dari pengeras suara di dalam kedai terdengar sayup beradu dengan suara kendaraan yang berlalu lalang di depan kedai. Jalanan kedai ini salah satu alternatif jalan menuju pasar. Sementara jalan kian ramai dan mentari kian menyingsing, merangkak menuju singgasananya, aku termenung di bilik samping sembari menikmati tanaman yang memperbincangkan tentang percakapan manusia semalam. Nampaknya, semalam ada beberapa pemuda duduk disini. Bercerita tentang mengapa dan bagaimana dengan logat masing-masing dan pola pikir masing-masing. Nampak kopiku telah datang. Pertanda kenikmatan di setiap seruputnya akan terasa. Namun aku masih sibuk dengan perenungan dan menyebat sebatang lisong yang membangkitkan gairah untuk menjalani hari. Aku seorang penulis muda yang masih belajar, memint...

Sesepuh Gelap

Gambar
Kidung mulai dilantunkan. Janji-janji kembali menguap seperti biasa. Cerita-cerita luhur tentang ksatria perang yang terpuruk di ujung laga. Sementara angin memainkan rambut seorang penyair yang haus akan pelukan. Dan ia tak temukan pelukan itu di setiap jiwa yang gersang. Tak beda dengan melawan api dengan api yang menjadikannya padam. Suara iringan gamelan mulai sayup terdengar. Ada yang bernyanyi di sela-sela keheningan. Nampaknya itulah rintihan hati jiwa yang melayang. Kemudian wajah sayu nampak lewat di tengah belantara hutan. Itukah engkau yang menagih janji? Seorang penasehat yang dulu pernah tenar di masanya, sekarang hanya menjadi fosil. Kuikuti langkahnya ke dalam gua. Gua yang gelap. Nampak ada seorang yang tua dan gemuk serta bermata sayu. Duduk menatap perapian. Langkah ku ayunkan untuk mendekatinya. Tak lama ia berucap, "kenapa mesti bimbang, ketika kuasa telah di tiupkan pada rohmu". Nampaknya ia menyadari kehadiranku. "Kemarilah jiwa yang terabaikan, aku...

Arus Peradaban dan Wajah Rembulan

Gambar
Arus damai. Tabir cetusan karya Tuhan dalam semesta yang diciptakan-Nya. Karya ini tercipta akibat tekanan pengaruh obat. Mohon sedikit rileks membacanya. Karena akan berisi konten yang tidak jelas. Suara bisikan menjalar mengikis bunga. Tumbuh layu kemudian merasakan mati. Taman kembali hijau dengan berbagai pernak pernik permata surgawi. Nampaknya kepakan sayap malaikat menjatuhkan mutiara yang menghidupi dunia. Seandainya titik mengembang dalam rasa membara menjelma tubuh layu menumbangkan. Oh tidak, aku melupakan titik. Kesunyian menyerebak. Orang-orang berjalan lambat dan nampaknya tidak sadar atas kehadiranku. Aku berada di dimensi diatas mereka. Seorang menulis catatan disampingku. Atas sekedar menyalin dari tulisan teman. Sementara satu yang lain bercakap. Ia berada di kananku. Mungkin membicarakan tentang berapa ukuran BH mereka. Kelihatannya mereka perempuan. Kulihat dari jilbab dan benjolan di dadanya. Itu bukan tumor. Sementara petikan gitar terdengar. Kuingat k...

Mempertanyakan Kesadaran

Gambar
Kesadaran bersandar pada tembok-tembok kenyataan. Menemui betapa fiksinya realita, menjadikan segalanya menjadi samar. Sementara gairah bersembunyi dari gemerlap keramaian. Aku duduk bersandar, menikmati suasana nan asri di bawah rindangnya pohon trembesi. Tapi, kesadaranku sedang melayang saat ini. Karena harmoni pembicaraan orang-orang yang baru kutemui rimanya. Dari rima itu kusadari bahwa manusia mesti banyak berbohong. Menciptakan nyanyian dari kebohongan. Kepalsuan. Menjadi udara yang menguap, sebagian mengendap dan menyergap paru-paru orang yang tak berdaya. Kesadaranku semakin tinggi. Kudengar lantunan musik dari sebuah handphone mas-mas di samping tongkrongan. Dan bualan ini belum benar dan mungkin benar-benar palsu. Terlihat awan berarak, terlihat dari sela-sela ranting. Terbawa angin. Seperti omongan-omongan diatas mimbar yang membicarakan keadilan dan kedamaian . Sementara oligarki berlenggang dan nepotisme buta merajalela. Tentu saja, korupsi menjadi budaya di negara berke...

Bajingan di Ujung Hayat

Gambar
Di sudut kota, di kala senja telah menghilang dan jalanan mulai sepi. Seorang bajingan duduk di bawah lampu jalan, bersandar pada keresahan atas arti kehidupan. Sembari meneguk alkohol dan menghisap sebatang lisong yang terselip di jemarinya. Berbisik pelan dalam gumaman, "apakah masih ada kejahatan yang belum kulakukan? Membunuh pun sudah biasa, memperkosa sudah hal lumrah, menjarah ialah makanan sehari-hari, ibadah tak pernah, sok kuasa ialah darah dagingku. Ah, nampaknya kejahatan hanyalah seperti ini. Mungkin ini sudah saatnya". Ia meneguk kembali alkohol dalam botol dan pikirannya pun mulai melayang karena didapatinya alkohol racikan itu memiliki kadar alkohol di atas normal. Kemudian ia terkulai lemah di sudut jalan, "Jikalau ini napas terakhirku kuberikan ia untuk menyebut nama orang tuaku yang tak sempat aku banggakan, malah aku sering membuat mereka malu dengan keadaanku saat ini". Kemudian ia pun tak sadarkan diri. Sekiranya sudah beberapa hari hingga akhi...

Siang yang Gelap

Gambar
Aku berdiri di bawah mega mendung Menyisiri angin yang sejuk Membawa teror bagi mereka yang enggan Untuk merasakan sejuk air hujan Dingin.. Tapi menyadarkan Bahkan saat terik Masih berikan kehangatan Tidak menyengat Dan hujan tak membuat getir ragaku Karena yang berjalan disini bukan hanya raga Tapi jiwa yang menganga Syukur pujian tiada henti Karena dalam kegelapan Tiada yang bisa dikenali Hanya secerca lentera Tidak menyilaukan Hanya sekedar berpendar Sendiri di dalam gelap Hanya ada bisik yang bising Meraung terus menguji kesadaran Hingga akhirnya akan kutemui cahaya Yang menerangi di sisa umur jiwa Melayang lah ia pada suatu wadah Di pelukan Tuhan

Manusia di Ujung Kebimbangan

Gambar
Pagi telah tiba. Pertanda anak-anak mimpi kita telah wafat ditelan memori otak yang terbatas. Hanya beberapa yang masih terngiang di kepala. Tapi mimpi hanyalah mimpi. Bukan wahyu yang disampaikan Jibril karena kita hanyalah manusia biasa. Bukan para nabi, wali apa lagi rasul dengan segala mukjizatnya. Keajaiban akan terbelahnya bulan hingga makanan jatuh hanya dongeng di masa rasul, kini kita dihadapkan dengan realita yang rumit lagi mencekik. Sebagian menemukan rasa syukur di balik batu besar nan berat bernama rasa kufur akan nikmat. Bersembunyi di dalam goa atau keheningan nan gelap tanpa cahaya lentera yang menerangi. Kini banyak orang lupa bersyukur yang menyebabkan banyak orang yang jatuh. Mereka jatuh ke dalam palung terdalam di dunia yang bernama kesedihan, depresi dan sebutan lain yang menggusarkan jiwa. Sementara makanan jiwa ialah kesejukan yang dibawa Tuhan berupa sentuhan jemarinya yang mengelus halus ubun-ubunmu. Tak jarang Ia menyentuh qolbumu yang membuatmu ...

Doa Hidup

Gambar
Seorang berkisah tentang dunia. Dengan segala peluh yang menetes diatas tanah yang kering. Dengan segala air mata yang menetes di tengah kecamuk gelombang air bah. Sementara ia bergumam akan riuh dalam sendiri. Mungkin Tuhan sedang temangu di singgasananya, sembari menghisap sebatang rokok dan menikmati air khamr dari surga-Nya. Atau sedang menulis karena kesibukan manusia yang lucu dengan segala tingkah kocaknya. Bukankah tanah ini ialah ladang bagi tanaman, yang akan di panen dikala musimnya telah tiba? Atau dipetik buahnya karena alasan ekonomi yang menyebabkannya dipanen lebih dini? Oh Tuhan, jika aku ialah tanah, maka aku ini sejatinya adalah tanah yang gersang. Yang jauh dari kekayaan hara yang membuatnya subur. Sehingga banyak orang enggan menanam diatasku. Sementara mereka ialah tanah yang subur, yanh mudah ditanami berbagai tumbuhan. Yang pada akhirnya akan disemai dan diperjual belikan pada saatnya nanti. Aku bersyukur dilahirkan seperti ini. Setidaknya hanya oran...

Mutiara yang hilang

Hingga kumandang itu Aku masih terjaga Mengeja kantuk yang tidak juga aku mengerti Apakah ini pertanda Bahwa aku harus berhenti Untuk membenci pagi Bahwa dalam pagi Ada kesejukan yang kucari selama ini Tiada guna menghitung purnama Apalagi menghitung napas yang keluar masuk Nikmat Tuhan yang tak layak aku hitung Di dasar ketakutan akan mati Yang senantiasa menghiasi pejam mataku Sementara aku mengenal diriku Aku merintih sedu dalam kesadaran Menerima apa yang pantas Dan menolak apa yang keliru Sayangnya Aku masih samar akan benar dan buruk Aku masih jauh dari kata murni Masih jauh dari jemari Tuhan Yang setiap malam membelai dalam tidur nyenyakku Betapa beruntungnya aku Diberi keresahan yang menyadarkanku Bahwa hidup bukan sekedar mengeja rindu Bukan perkara meniti jalan penderitaan Tapi merangkai kesadaran Bahwa hidup ialah mencari kebenaran Sebelum dijamu oleh pertanyaan Pada ajal pembalasan yang kelam

Hari Berganti

Gambar
Gerimis masih mengguyur malam Dengan dingin yang sejuk Jatuh air lalu mengalir Entah kemana akan bermuara Sementara orang-orang tidur Berselimut hangat di ranjang-ranjang mereka Memeluk guling dan mulai bermimpi Entah kemana jiwa mereka melayang Ada kemilau dilangit Apakah itu engkau? Yang kini gemilang diatas sana Dan aku Hanyalah lentera kecil di ujung gelap Merangkai kata menjadi rima Mengeja rasa yang kian kalut Tertusuk-tusuk hujan di malam ini Pertanyaan mereka terus menggerus telingaku Disebagian detik aku merasa ada yang berbisik Berbicara tentang kemurnian Kata yang keluar dari diri Ialah kata hati Perantaraku dengan Tuhan Yang anugrahkan sebuah resah Menjadikanku sadar Bahwa manusia hanyalah makhluk biasa Tiada beda mereka dengan makhluk lain Kecuali cara mereka merusak yang lainnya Tak terdengar lagi nyanyian alam Tertutup ramai desing kata tanpa makna Tak terdengar tutur luhur kearifan Tertutup pekat nafsu angkara Sementara parade masih berjalan Deruh murka manu...